Jumat, 30 Maret 2012

Jumat, 16 Maret 2012

PENDIDIKAN KEPENDUDUKAN DAN LINGKUNGAN HIDUP (PKLH) IMPLEMENTASI DAN PERMASALAHANNYA

PENDIDIKAN KEPENDUDUKAN DAN LINGKUNGAN HIDUP (PKLH)

IMPLEMENTASI DAN PERMASALAHANNYA



oleh

Ida Bagus Made Astawa

Jurusan Pendidikan Geografi

Fakultas Pendidikan IPS,  IKIP Negeri Singaraja



ABSTRAK

            Masalah lingkungan yang dihadapi akhir-akhir ini telah mengusik eksistensi bumi sebagai dunia dengan lingkungannnya yang lestari. Terusiknya eksistensi bumi tersebut bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri. Keberadaannya berhubungan erat dengan masalah kependudukan dalam konteks penduduk dan pembangunan. PKLH merupakan program pendidikan yang ditujukan untuk mengubah sikap dan perilaku manusia agar bereproduksi secara rasional, memelihara lingkungan hidup, dan bertanggung jawab terhadap kualitas kehidupan sekarang dan masa mendatang melalui proses pendidikan. Melalui PKLH, diharapkan eksistensi bumi sebagai dunia dengan lingkungan hidup yang lestari dapat dipertahankan. Namun, dengan tidak menjadikan PKLH sebagai mata kuliah wajib di LPTK, pembelajarannya di sekolah yang diintegrasikan dengan mata pelajaran lainnya menjumpai berbagai kesulitan. Hal tersebut, pada akhirnya berpengaruh pada pencapaian tujuan kurikuler PKLH. Jika PKLH masih dijadikan sebagai program dalam pembentukan sikap dan perilaku yang berwawasan kependudukan dan lingkungan hidup, maka penting untuk dilakukan penyempurnaan pada Program PKLH secara menyeluruh.

Kata kunci :     pendekatan integratif, bumi sebagai dunia, PKLH, masalah lingkungan.


ABSTRACT

            Environmental problems occured recently have affected the existence of the earth as a world with its nature. However, they do not stand alone as they are related to other causes, namely population problems i.e population and development. PKLH-Population and Environmental Education is a program aiming at changing man’s behaviour and attitudes to reproduce rationally, preserve the environment, and to be responsible with the quality of both today’s life and that of the future through education. Thus, it is expected that the existence of the Earth as the world and its environment can be preserved. Yet, since PKLH is not a compulsary subject at LPTK, there are problems emerged in the integrated teaching of PKLH with other subjects at schools. If PKLH is still employed to form a Population-and-environmental-based-behaviour and attitudes, it is hence important to improve the PKLH program thoroughly.

Key Words : integrated approach, earth as a world, PKLH, environment problems.
           

1. Pendahuluan
Manusia, sejak permulaan keberadaannya di bumi, sudah hidup dari dan dengan lingkungannya. Semasih segala kebutuhan manusia dapat dipenuhi dengan memanfaatkan sumber daya alam di sekitarnya, dan semasih bumi mampu memproses secara alamiah buangan/sisa yang diperlukan manusia, tidak ada masalah yang perlu dikhawatirkan pada lingkungan. Namun, sejalan dengan peningkatan kebutuhan dan perkembangan teknologi manusia, tampak masalah lingkungan menjadi semakin memprihatinkan. Masalah lingkungan bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri, melainkan sangat erat hubungannya dengan masalah kependudukan dalam konteks penduduk dan pembangunan (Ananta, 1992; Mantra,2001; Moertopo, 1992). Dalam hal ini, kerusakan lingkungan tidak hanya sebagai akibat dari bertambahnya penduduk serta meningkatnya kebutuhan hidup. Terdapat proses lain yang menyertai yang menyebabkan menipisnya sumber daya alam menjadi jauh lebih parah.
Semakin meluasnya masalah lingkungan menyebabkan isu, perhatian, dan aktivitas lingkungan mulai diperkenalkan secara meluas sejak dasa warsa 1960-an. Puncaknya adalah pada dasa warsa 1970-an, yaitu dengan digelarnya The United Nation Conference on Human Environment di Stockholm oleh PBB pada tanggal 5 s/d 16 Juni 1972 (Sumaatmadja, 2001). Implementasi dari resolusi Stockholm adalah dibentuknya badan khusus yang membidangi permasalahan lingkungan oleh PBB yang dikenal dengan United Nations Environmental Programs (UNEP) yang bermarkas di Nairobi, Kenya (Soemarwoto, 1982). 
Namun demikian, satu setengah dasa warsa setelah dicetuskannya resolusi Stockholm (tahun 1987), Komisi Dunia untuk Lingkungan Hidup dan Pembangunan PBB dalam laporannya (Our Common Future) mengidentifikasi sejumlah gejala global yang mengancam eksistensi bumi (Astawa, 1999), di antaranya yang sangat dikhawatirkan adalah rusaknya lapisan ozon, pemanasan global, hujan asam, dan pencemaran air laut oleh bahan berbahaya beracun (B3). Menurut Chiras (seorang ahli lingkungan PBB) ancaman terhadap existensi bumi itu bisa terjadi karena gejolak filsafat manusia yang diterapkan hingga dewasa ini pada kehidupan nyata (dalam Astawa, 1999), di antaranya : (a) filsafat biological imprialism dan ajaran relegi  yang menganjurkan beranak pinak tanpa batas; (b) filsafat I Versus not I  dan tumbuhnya frontier mentality; (c) falsafah membangun dengan mengembangkan ilmu dan teknologi yang makin besar dan canggih; (d) falsafah bahwa manusia ada di atas alam dengan kemampuan berfikirnya dan anggapan bahwa sumber alam di bumi tidak terbatas, berlimpah; (e) falsafah ekonomi (bermodal minimal untuk meraih keuntungan maksimal dalam tempo yang sesingkat mungkin).
Menyadari paparan di atas dan  memperhatikan hakikat pendidikan (Salam, 1997), maka dalam rangka menumbuhkembangkan sikap dan perilaku masyarakat  yang berwawasan kependudukan dan lingkungan hidup, peran pedidikan menjadi sangat penting.  Dicanangkannya PKLH dalam pendidikan formal ataupun nonformal menunjukkan komitmen pemerintah Indonesia untuk berperan serta dalam mewujudkan eksistensi bumi sebagai dunia yang lestari melalui pendidikan.
Namun demikian, memperhatikan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) yang tidak lagi menjadikan PKLH sebagai mata kuliah wajib, sementara di sekolah PKLH dituntut diintegrasikan pada mata pelajaran yang ada, maka implementasi PKLH di sekolah perlu dipertanyakan. Tulisan ini bertujuan untuk membahas implementasi PKLH di sekolah beserta permasalahannya, dengan menggunakan beberapa sumber dan pengalaman selama menjadi instruktur pada pelatihan PKLH bagi guru-guru sekolah (TK - SLTA) se Bali. Dengan pembahasan tersebut diharapkan lebih terungkap berbagai permasalahan dalam mengimplementasikan PKLH di sekolah, sehingga solusi dapat diberikan sebagai suatu alternatif.
PKLH bukanlah sekadar menyajikan kepada murid contoh-contoh kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh perilaku manusia, yang bahan-bahannya dapat diambil dari guntingan-guntingan koran atau yang sejenisnya. Pembelajaran PKLH harus mengandung etika lingkungan dengan mengajak anak didik menyadari makna lingkungan baginya dan keterkaitannya dengan penduduk (Sumaatmadja, 2001; Kastama, 1996). Dengan demikian, secara mendasar guru dituntut memahami PKLH, di samping kewajibannya memiliki kemampuan untuk mengintegrasikan PKLH ke dalam mata pelajaran pokoknya (Kastama, 1996). 

2. Pembahasan
2.1  PKLH dan Implementasinya
Terkait dengan PKLH, sebelum tahun 1984, dikenal dua program, yaitu Pendidikan Kependudukan (Population Education) dan Pendidikan Lingkungan Hidup (Environmental Education). Pendidikan Kependudukan dicanangkan oleh Depdikbud mulai tahun 1970, dengan latar belakang kekhawatiran dunia akan adanya pertumbuhan penduduk yang tidak dapat diimbangi oleh pertumbuhan bahan-bahan kebutuhan hidup. Sebagai suatu proses pendidikan, Pendidikan Kependudukan ditekankan pada informasi masalah kependudukan dengan tujuan mengubah sikap mental masyarakat ke arah hal-hal yang positif dalam menanggulangi masalah kependudukan (Sumaatmadja, 2001). Dalam hal ini, sasaran utama Pendidikan Kependudukan adalah perubahan sikap dan perilaku terhadap masalah reproduksi dan persebaran penduduk secara rasional dan bertanggung jawab.
Pendidikan Lingkungan Hidup merupakan program yang dicanangkan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mulai tahun 1981. International Union for Conservation of Nature and Nature Resources (IUCN) memberikan batasan  Pendidikan Lingkungan Hidup (dalam Sumaatmadja, 2001) sebagai berikut.
“Environmental education is a process of recogniting values and clarifying concepts in order to develop the skills and attitudes that are necessary to understand and appreciate the interrelations among man, his culture and his biophysical surrounding. Environment education is also entails practise in dicision-making, and the self-formulation of code of behaviour about the issues concerning environmental quality”

Dalam batasan itu tersirat bahwa sasaran utama dari Pendidikan Lingkungan Hidup diletakkan pada upaya mengembangkan sikap dan perilaku yang bermakna (rasional dan bertanggung jawab) terhadap masalah pengelolaan sumber daya alam.
Tujuan utama dari dua program tersebut memang tampak berbeda, namun, secara implisit pada dasarnya kedua program tersebut adalah sama, yaitu ditujukan untuk menunjang terbinanya kualitas hidup penduduk secara lebih baik. Kedua program tersebut juga memiliki objek kajian yang sama, yaitu dinamika penduduk dan integrasi perilakunya (manusia) terhadap lingkungan sosial, ekonomi dan fisiknya. Persamaan lainnya juga tampak dari pendekatan pelaksanaannya, yaitu sama-sama menggunakan pendekatan multidisiplin dengan mengintegrasikan fakta, konsep, prinsip dan teori kependudukan dan lingkungan hidup ke dalam berbagai studi yang relevan.
Karena adanya persamaan itulah kemudian Depdikbud, LIPI dan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) memprakarsai seminar-lokakarya (semiloka) yang pelaksanaannya dilakukan pada bulan Juli dan Oktober 1983 serta bulan Januari 1984. Hasil tiga kali semiloka tersebut adalah disepakati penyatuan kedua program  menjadi satu program, yaitu Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup yang kemudian lebih dikenal dengan PKLH.
Menurut hasil semiloka tersebut, PKLH adalah suatu program kependidikan untuk membina anak didik agar memiliki pengertian, kesadaran, sikap dan perilaku yang rasional serta bertanggung jawab tentang pengaruh timbal balik antara penduduk dan lingkungan hidup dalam berbagai aspek kehidupan. Sasaran akhir dari PKLH adalah terbentuknya Warga Negara Indonesia yang berwawasan kependudukan dan lingkungan hidup, yaitu yang dalam tingkah laku sosial, ekonomi, politik dan budayanya berpandangan progresif terhadap masalah-masalah kependudukan dan lingkungan hidup menuju kehidupan keluarga dan masyarakat yang serasi seimbang dalam hubungannya dengan Tuhan, lingkungan sosial dan lingkungan hidupnya (Kastama,1996). Dengan demikian, dapat dikemukakan bahwa PKLH sebagai program pendidikan, pada dasarnya bertujuan membentuk sikap dan perilaku manusia agar bereproduksi secara rasional, memelihara lingkungan hidup, dan bertanggung jawab terhadap kualitas kehidupan sekarang dan masa mendatang melalui proses pendidikan.
Untuk mencapai tujuan tersebut PKLH diajarkan di semua jenjang pendidikan baik formal maupun nonformal, mulai dari sekolah dasar hingga ke perguruan tinggi. Pendekatan yang digunakan dalam mengimplementasikan PKLH di perguruan tinggi cukup bervariasi. Ada yang menggunakan pendekatan monolitik, baik sebagai mata kuliah wajib maupun sebagai mata kuliah kekhususan di program studi. Ada juga yang menggunakan pendekatan integratif, di samping juga ada yang tidak mencanangkannya sebagai mata kuliah.
Di LPTK, dengan pemberlakukaan SK Mendikbud RI  Nomor 0193/U/1976, PKLH menjadi mata kuliah wajib yang berdiri sendiri (monolitik) dan termasuk dalam kelompok Mata Kuliah Dasar Umum (MKDU). Perrtimbangan yang melandasinya adalah, sebagai lembaga yang menghasilkan tenaga kependidikan (calon guru), seorang lulusan LPTK harus memiliki kemampuan untuk mengajarkan PKLH secara terintegrasi di sekolah pada mata pelajaran yang dijarkan.
Namun, dengan pemberlakukaan SK Mendikbud RI Nomor 0212/DJ/Kep/ 1983 tentang Kurikulum Inti Program Sarjana dan Program Diploma Bidang Kependidikan, yang tidak menjadikan PKLH mata kuliah wajib yang berdiri sendiri di LPTK, berbagai variasi muncul dalam mengimplementasikan materi PKLH di LPTK. Ada yang menjadikan PKLH sebagai mata kuliah yang diajarkan secara monolitik dengan memasukkannya ke dalam kelompok MKDU. Ada yang memasukkan PKLH kedalam Mata Kuliah Kekhususan Program Studi, seperti terlihat di IKIP Negeri Singaraja (namun, hanya di Jurusan Pendidikan Biologi, Pendidikan Geografi, dan PPKn). Di samping itu, ada juga LPTK yang tidak mengajarkannya secara monolitik, tetapi menyajikannya secara integratif, dengan mengintegrasikan PKLH ke dalam mata kuliah Ilmu Sosial Dasar (dalam kelompok MKDU).
Terlepas dari variasi pengimpelementasian PKLH tersebut, keberadaan PKLH secara monolitik di perguruan tinggi perlu dipertahankan, khususnya di LPTK (Kastama,1996). Sebagai calon guru, mahasiswa LPTK dituntut mempunyai persepsi yang mantap tentang kemungkinan adanya dampak negatif dari pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali atau tentang adanya interaksi negatif dengan lingkungan hidupnya, di samping karena kependudukan dan lingkungan hidup menjadi hal yang mendasar sebagai penjabaran ketentuan GBHN, terutama dalam membentuk sikap dan perilaku generasi muda berwawasan kependudukan dan lingkungan hidup.
Di Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah (SM),  PKLH diimplementasikan secara integratif ke dalam sejumlah mata pelajaran yang relevan. Di tingkat SD PKLH diintegrasikan pada bidang studi IPS, IPA, PPKn, Agama, Pendidikan Jasmani/Olahraga, dan Bahasa. Di SM, PKLH diintegrasikan pada mata pelajaran Geografi, Sejarah, Ekonomi, Sosiologi dan Antropologi, PPKn, Biologi, dan mata pelajaran Kimia (Depdikbud, 1990) Digunakannya pendekatan integratif dalam pembelajaran PKLH di sekolah dilandasi pertimbangan bahwa kurikulum yang ada sudah terlalu sarat, sehingga tidak memungkinkan lagi PKLH dijadikan sebagai mata pelajaran yang diajarkan secara monolitik.
Dalam mengintegrasikan PKLH pada bidang studi atau mata pelajaran yang telah disebutkan di atas, Depdikbud pada tahun 1990 menerbitkan Buku Pegangan Guru PKLH pada semua jenjang pendidikan. Buku itu memuat Garis-Garis Besar Program Pengajaran (GBPP) PKLH yang dipadukan dengan mata pelajaran yang diintegrasikan. Dengan buku tersebut guru mata pelajaran yang dintegrasikan diharapkan menjadi lebih terarah dalam mengembangkan PKLH ke dalam mata pelajaran yang diasuhnya.  Untuk itu, dalam pengembangannya diperlukan suatu koordinasi di antara sesama guru mata pelajaran di mana PKLH  diintegrasikan, sehingga tujuan PKLH  dapat diterima secara utuh oleh peserta didik.
Di samping itu, dari sisi pedagogis, Munir (1996) mengemukakan, yang perlu diperhatikan guru dalam mengimplementasikan PKLH adalah tiga daya   yang terdapat dalam diri sasaran didik yang secara resultan akan menimbulkan perilaku (yang dapat diamati), yaitu a) daya individual yang sudah ada dalam diri seseorang atau individu (perhatikan Gestalt Theory dari W.Kohler), b) daya rangsangan terhadap seseorang yang ditanggapi (perhatikan Stimulus-Respons the Theory dari B.F.Skinner), c) daya pengulangan pengalaman yang enak/baik, dan menghindari pengalaman yang tidak enak/baik (perhatikan Conditioning Theory dari James W).
Berarti, secara pedagogis, implementasi PKLH dalam pembelajaran menuntut guru tidak hanya sekadar mampu menyajikan kepada murid contoh-contoh kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh perilaku manusia, yang bahan-bahannya dapat diambil dari guntingan-guntingan koran atau yang sejenisnya. Dalam hal ini, seorang guru dituntut mampu menyadari keberadaan siswanya terkait dengan lingkungan tempat mereka berada dan mampu menstimulasi sasaran didik untuk menumbuhkan sikap dan perilaku yang mengandung etika lingkungan (Sumaatmadja, 2001). Sikap dan perilaku tersebut ditumbuhkan dengan mengajak anak didik menyadari makna lingkungan baginya dan memahami keterkaitannya dengan penduduk. Di samping itu, sikap dan perilaku yang berwawasan kependudukan dan lingkungan hidup juga perlu dimiliki dan ditunjukkan oleh seorang guru untuk dapat diteladani oleh siswanya. Berarti, untuk dapat melakukan pengintegrasian PKLH ke dalam mata pelajarannya, pemahaman seorang guru tentang PLKH menjadi mutlak, di samping kemampuan merespon dan keteladanannya sebagai pencinta dan pelestari lingkungan. 

2.2  Permasalahan Pembelajaran PKLH di Sekolah
Telah dikemukakan di atas bahwa PKLH di sekolah diimplementasikan menggunakan pendekatan integratif. Hasil monitoring dan supervisi Depdikbud terhadap Pendidikan Kependudukan yang diimplementasikan secara integratif di sekolah memperlihatkan adanya beberapa hambatan (Kastama, 1996). Salah satunya adalah sulitnya guru mengintegrasikan materi Pendidikan Kependudukan ke dalam bidang studi atau mata pelajarannya, walaupun GBPP sudah disiapkan. Hal yang sama juga dijumpai oleh Rideng (1997) dalam penelitiannya tentang Pelaksanaan PKLH di SMU di  kabupaten Buleleng.
Terkait dengan PKLH, pada kurun waktu 1996-1999, penulis ditugaskan sebagai instruktur/nara sumber dalam Pelatihan PKLH yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikans Profinsi Bali. Peserta pelatihannya adalah guru-guru TK, SD, SLTP dan SMU/K pengajar mata pelajaran di mana PKLH diintegrasikan. Kesempatan itu juga digunakan melakukan wawancara dengan peserta pelatihan. Hasil wawancara  mengidentifikasi permasalahan dalam implementasi PKLH di sekolah, seperti diuraikan berikut ini.

2.2.1  Masalah Guru sebagai Tenaga Pengajar PKLH
Implementasi PKLH secara integratif di sekolah terlihat memudahkan dan memperlancar pelaksanaan PKLH karena jumlah guru yang dipandang turut mengambil bagian tanggung jawab dalam melaksanakan program PKLH menjadi cukup banyak. Namun, tanggung jawab yang diemban oleh guru bersangkutan menjadi berkurang. Sementara, guru dituntut perhatian dan kemampuannya secara konprehensif menyeluruh, di samping kemampuan dasar yang dapat menjamin pelaksanaan tugasnya sesuai dengan tujuan pendidikan (Sumaatmadja, 2001). Berkurangnya tanggung jawab guru merupakan konsekuensi logis dari penerapan pendekatan integratif karena PKLH hanyalah materi titipan pada mata pelajaran yang menjadi tugas pokok guru yang bersangkutan.
Di samping itu, implementasi PKLH dengan pendekatan integratifnya terlihat tidak akan menambah beban waktu efektif suatu mata pelajaran. Namun, guru akan kesulitan mengalokasikan waktu pada PKLH karena untuk mata pelajaran pokoknya saja waktu yang disediakan sudah sedemikian ketat, sehingga sulit untuk menambahkan pokok bahasan yang dititipkan dari PKLH. Kenyataan tersebut tentu berimplikasi pada pencapaian tujuan kurikuler PKLH itu sendiri. 

2.2.2  Masalah Bahan Pelajaran
Pengintegrasian bahan pelajaran PKLH ke dalam mata pelajaran lain, dalam penyajiannya jelas akan memperoleh fokus bahasan dari guru yang dibebani tanggung jawab tersebut. Bisa terjadi seorang guru yang mengintegrasikan PKLH berkurang perhatiannya terhadap bahan pelajaran pokok yang seharusnya menjadi tanggung jawab profesinya, atau sebaliknya pokok bahasan PKLH menjadi sangat berkurang, bahkan mungkin terlupakan. Hal itu akan berdampak  pada pencapaian tujuan kurikuler  PKLH itu sendiri dan pada pencapaian kurikuler secara menyeluruh.
Di samping itu, pengintegrasian tersebut juga dapat menimbulkan terpisah-pisahnya pokok bahasan PKLH. Hal ini akan mengganggu kesatuan program PKLH,  sementara keutuhan program sebagai satu kesatuan menjadi tututan dasar dalam pencapaian kurikulum (Nasution,1982). Dampaknya adalah pada sasaran didik dalam menerima PKLH sebagai program. Pemahaman siswa pada PKLH akan menjadi terkotak-kotak, tidak secara utuh dalam suatu kebulatan program yang menyeluruh. Kenyataan tersebut tentu akan menggangu pula keberhasilan tujuan kurikuler PKLH.


2.2.3  Metode dan Teknik Penyajian
Setiap pokok bahasan membutuhkan metode dan teknik penyajian tertentu yang dirasakan efektif (Salam,1997). Dengan pengimplementasian PKLH secara integratif, persoalannya terletak pada bagaimana para pengajar terampil menggunakan dan mentransfer metode yang digunakannya untuk mata pelajaran pokoknya sebagai metode untuk menyajikan pokok bahasan PKLH. Pada saat pokok bahasan PKLH memperlihatkan corak atau ciri yang khas untuk menerapkan metode tertentu, maka tidak mustahil akan timbul kesulitan dalam menghadapi metode tersebut untuk dintegrasikan dengan pokok bahasan pada mata pelajaran pokoknya. Permasalahan yang timbul pada penerapan metode dan teknik penyajian PKLH, maka akan berimplikasi pada tujuan kurikuler secara keseluruhan, baik mata pelajaran yang dititipkan maupun tujuan kurikuler PKLH itu sendiri. Dalam hal ini, guru akan lebih mengutamakan pencapaian tujuan kurikuler dari mata pelajaran yang menjadi tugas pokoknya.

2.2.4  Evaluasi
Tercapainya tujuan pendidikan baru dapat diketahui bila telah dilakukan evaluasi terhadap tindakan dan kegiatan pendidikan tersebut (Salam, 1997). Dengan pendekatan integratif yang digunakan dalam mengimplementasikan PKLH sudah dapat dibayangkan bagaimana sulitnya melaksanakan evaluasi sekaligus dalam bentuk mata pelajaran yang sudah diintegrasikan. Hal tersebut akan berdampak juga pada pencapaian tujuan kurikuler.
           
3. Penutup
  Memperhatikan kendala-kendala yang muncul dalam mengimplementasikan PKLH secara integratif di sekolah, dapat dikemukakan bahwa hal tersebut secara umum akan berdampak pada pencapaian tujuan kurikulernya. Jika tujuan kurikuler tidak tercapai, berati PKLH gagal dalam membentuk insan-insan yang berwawasan kependudukan dan lingkungan hidup. Jika itu terjadi, janganlah berharap banyak bahwa bumi sebagai dunia dengan lingkungan yang lestari akan dapat diwujudkan. Yang perlu dipertanyakan kemudian, mengapa kerusakan lingkungan di Indonesia semakin parah? Apakah ini sebagai kegagalan PKLH diimplementasikan selama 30 tahun dalam pendidikan formal dan nonformal? Untuk menjawab pertanyaan itu perlu  pembuktian secara empiris, yang sudah tentu menjadi tugas kita bersama.
Menyadari kendala yang ada, maka implementasi PKLH sebagai suatu program pendidikan di LPTK maupun di sekolah memerlukan pengkajian kembali dan penyempunaan. LPTK sebagai lembaga “produsen” guru yang nantinya akan mengintegrasikan PKLH ke dalam mata pelajarannya semestinya membekali lulusannya dengan PKLH. Sementara itu, implementasi PKLH di sekolah dengan pendekatan integratif memerlukan penyempurnaan GBPP dan koordinasi antarsesama guru pemegang mata pelajaran yang dititipkan.  Dalam hal ini, peranan Kepala Sekolah sebagai koordinator sangat diperlukan, sehingga pengorganisasian pokok bahasan-pokok bahasan dalam PKLH benar-benar dapat terintegrasikan dan saling melengkapi pada mata pelajaran yang dititipkan. Untuk itu Kepala Sekolah juga perlu mahami PKLH.


DAFTAR PUSTAKA

Astawa, Ida Bagus Made. 1999. “Pengertian Umum Kependudukan dan Lingkungan Hidup”. Makalah disampikan dalam Diklat PKLH untuk Guru-Guru Sekolah (SD-SLTA) bulan Nopember 1999 di Kanwil Depdikbud Provinsi Bali.  Denpasar : Depdikbud Provinsi Bali
Ananta, Aris. 1992. “Penduduk dan Pembangunan Berkelanjutan” dalam Warta Demografi Tahun XXII Nomor 9. September 1992. Jakarta :  LD-FEUI.
Depdikbud RI. 1990. Buku Pegangan Guru Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup Untuk Sekolah Menengah Umum Tingkat Atas. Jakarta : Depdikbud.
Kastama, Emo.1996. Pengantar Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup (PKLH). Jakarta : Depdikbud RI.
Mantra, Ida Bagoes, 2000. Demografi Umum. Yogyakarta : Putaka Pelajar.
Moertopo, Soegeng. 1992. “Pembangunan Berlanjut Berwawasan Lingkungan” dalam Seminar Nasional Kualitas SDM dan Pembangunan Berwawasan Lingkungan, 28-29 April 1992.  Yogyakarta : PAU - UGM .
Munir, Rozy. 1996. “Pengantar PKLH”. Makalah disampaikan dalam Pelatihan PKLH Tingkat Nasional di Jakarta.
Nasution, S.1982. Asas-Asas Kurikulum. Bandung : Penerbit Jemmars
Rideng, I Made. 1997. “Pelaksanaan PKLH di SMU di Kabupaten Buleleng”. Dalam Aneka Widya No.1 TH.XXX Januari 1997. Singaraja : STKIP Singaraja.
Salam, Burhanuddin. 1997. Pengantar Pedagogik (Dasar-Dasar Ilmu Mendidik). Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Soemarwoto, Otto. 1982. “Pengelolaan Lingkungan”, Kertas Kerja dalam Kursus AMDAL 2-17 Februari 1982. Kerjasama Kantor Menteri Negara Pengawasan Lingkungan Hidup dengan Lembaga Ekologi UNPAD Bandung,
Sumaatmadja, Nursid, 2001. Metodologi Pengajaran Geografi. Jakarta : PT.Aksara.

ekologi lingkungan



a.    Difinisi Ekologi
Asal kata ekologi:
Oikos:  tempat tinggal,
                   rumah tangga,
                   penyokong kehidupan
Logos:  ilmu pengetahuan
Ekologi: hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan rumah tangga sistem penyokong kehidupan
Jadi ekologi mempelajari:
1)    Hubungan timbal balik antara organisme dengan tempat tinggalnya
2)    Saling mempengaruhi antara jenis organisme
3)    Interaksi antara unsur unsur penyusun tempat tinggal
Komponen Penyusun Ekologi
1)    Makhluk hidup (komponen hayati atau biotik) meliputi: flora, fauna, mikroorganisme, manusia
2)    Tempat tinggal = rumah tangga (komponen fisik / geofisik) meliputi: tanah, air, udara
Jadi difinisi Ekologi:
Hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk hidup dan makhluk hidup denngan tempat tinggalnya, dengan penjelasan sebagai berikut:
   Ekologi diberi batasan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari satu organisme hidup atau sekelompok organisme hidup dengan lingkungannya
   Ekologi yang mempelajari organisme secara individu disebut autekologi, sedangkan ekologi yang mempelajari sekelompok individu disebut sinekologi
   Lingkungan hidup terutama dikaji dalam ilmu lingkungan yang merupakan ekologi terapan (applied ecology) dengan tujuan agar manusia dapat menerapkan prinsip dan konsep pokok ekologi dalam lingkungan hidup
   Dalam ekologi hubungan antara makhluk hidup dengan lingkungannya bersifat obyektif, manusia dipandang sama dengan makhluk hidup lainnya
   Dalam ilmu lingkungan manusia dibedakan dengan makhluk hidup lain, pandangan hubungan antara manusia dengan lingkungan bersifat subyektif ( ekologi= environmental biology  dan ilmu lingkungan= environmental science)
    di dalam ekologi interaksi bukan hanya hanya antara organisme dan komponen abiotik tetapi juga antara organisme hidup itu sendiri. Interaksi dapat terjadi diantara organisme yang sejenis (populasi)

2. EKOLOGI SEBAGAI DASAR ILMU LINGKUNGAN




 




Ekologi
 
       

 









Gambar 1: Ekologi sebagai dasar Ilmu Lingkungan

a.   Hubungan antar ilmu ilmu biosains:
   Hubungan antar cabang (interdisiplin) ilmu seperti yang disebutkan di slide sebelumnya, dapat dilihat pada fenomena yang terjadi di Inggris
   Sampai abad ke 13 di London khususnya, Inggris umumnya, terdapat sejenis belalang yang badan dan sayapnya berwarna putih namanya Locusta alba
   Belalang ini hinggap pada dinding dinding bangunan, yang pada saat itu berwarna putih
   Dengan melaksanakan mimicry  seperti, belalang putih tidak terlihat dengan jelas oleh burung pemangsanya
   Pada abad ke 20 saat pemakaian batubara untuk pembangkit listrik tenaga uap (pltu) dan kegiatan industri meningkat pesat, pencemaran di kota London mencapai puncaknya. Udara yang tercemar itu mengandung belangkin atau ter (tar), yaitu butiran arang yang amat kecil sekitar satu mikrometer (0,001 mm) yang bercampur air (Kupcella & Hyland, 1990)
   Zat pencemar tersebut telah merubah warna dinding bangunan dari putih menjadi abu abu bahkan ada yang hitam
   Ternyata apabila dicermati ada jenis belalang lain yang warnanya tidak putih seperti pada awal abad ke 13 dulu yang warnanya berubah dari putih menjadi abu abu atau hitam, selanjutnya dinamai Locusta grisea dan Locusta nigrita
   Terlihat bahwa warna yang merupakan salah satu ciri morfologi telah berubah
   Bersamaan dengan perubahan morfologi ini telah merubah pula nama belalang atau telah terjadi perubahan dalam taksonomi
   Perubahan yang berlangsung perlahan dari abad 13 sampai abad 20 atau sekitar 700 tahun itu disebut pula sebagai evolusi
   Uraian tersebut di atas memperlihatkan keterkaitan atau hubungan antar ilmu ilmu biosains


b.   Hubungan antar ilmu ilmu fisikosains:
Kegiatan pertambangan yang mengambil bahan mineral dari dalam tanah menggunakan pengetahuan geologi pertambangan. Pada pertambangan emas, tembaga, dan perak oleh PT, Freeport Indonesia (PTFI) umpamanya, galian tersebut mengandung limbah yang disebut tailing. Tailing  PTFI dibuang ke sungai aykwa yang menimbulkan pencemaran perairan (Anonimus, 1998)
   Kerusakan ekosistem ini menimbulkan masalah lingkungan apabila dikaji dari sudut pengetahuan hidrologi
   Terlihat dari kejadian di atas seolah terkait pula antara sesama pengetahuan fisikosains, dalam hal ini antara geologi dan hidrologi
   Jika dikaji lebih dalam ternyata lingkungan perairan yang tercemar dapat mempengaruhi biota yang hidup didalamnya, misalnya ikan
   Apabila air yang jernih menjadi tercemar maka ikan mas yang semula berwarna merah akan berubah menjadi pucat atau kuning keputihan (Tandjung, 1994)
   Konsep ekologi, hubungan timbal balik antara organisme dan lingkungannya terlihat pada fenomena di atas
   Jadi organisme dipelajari melalui biosains atau  ilmu lingkungan kehayatan, habitat dikaji dengan fisikosains atau ilmu lingkungan kebendaan

3. Ekologi versus Lingkungan Hidup






Ekologi: Hubungan antara mahkluk hidup dengan mahkluk hidup dan mahkluk hidup dengan tempat tinggalnya
 




Ekosistem
(Natural / Alam)
 

 










Ekosistem + Sosiosistem = Lingkungan Hidup



 












Gambar 2: Hubungan antara Ekologi dan Lingkungan Hidup



Lingkungan Hidup (UUPLH No.23 tahun 1997):
Kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan mahkluk, termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan peri kehidupan dan kesejahteraan manusia serta mahkluk hidup lainnya
Dengan demikian lingkungan hidup (live environment) disusun oleh tiga komponen atau abc environment yang meliputi:
  • A (Abiotic environment) atau lingkungan fisik yang terdiri dari unsur –unsur air, udara, lahan dan energi serta bahan mineral yang terkandung didalamnya
  • B (Biotic environment) atau lingkungan hayati yang terdiri dari unsur-unsur hewan, tumbuhan dan margasatwa lainnya serta bahan baku industri
  • C (Cultural environment) atau lingkungan cultural SOSEKBUD / Social Ekonomi BudaYa serta kesejahteraan
Jadi di dalam lingkungan hidup terjadi interaksi dan hubungan timbal balik yang dinamis antar ketiga komponen lingkungan tersebut, seperti berikut ini:
   Udara yang sejuk, segar dan tidak tercemar tentu saja sangat menyokong kehidupan manusia (C)
   Di negara yang penduduknya telah mempunyai kemampuan ekonomi yang kuat (C), pembangunan fisik (A) sangat menonjol
   Komponen fisik dan biologi sangat erat hubungannya, dan fungsinya sebagai tempat tinggal bagi manusia dan sistem sistem sosekbudnya. Karena itu kedua komponen tersebut digabung menjadi satu komponen dengan nama biofisik, sebagai satu sistem penyokong kehidupan

PROPOSED ACTIONS




           Oval: Abiotc 
Environment
(A)
Gambar 3: Interaksi dan hubungan timbal balik yang dinamis antar ketiga  komponen lingkungan
4. ORGANISASI DAN RUANG LINGKUP KAJIAN EKOLOGI LINGKUNGAN
























Gambar 4: Organisasi dan ruang lingkup Ekologi Lingkungan


   Individu individu organisme yang sejenis akan berkelompok membentuk suatu kelompok dan menempati suatu tempat pada suatu waktu, kelompok ini yang disebut populasi.
   Beberapa populasi akan mendiami suatu tempat secara bersama sama, kumpulan ini disebut komunitas.
   Komunitas akan saling berinteraksi secara timbal balik dengan komponen abiotiknya membentuk suatu sistem yang dikenal dengan ekosistem.

Populasi
Di dalam populasi ada hal-hal yang sangat khas sekali, yaitu:
a.    Ciri khas yang dimiliki oleh tiap tiap individu anggota populasi, misalnya sejarah hidup, perkembangan dan lainnya.
b.    Ciri khas yang dimiliki oleh populasi, misalnya laju kematian, laju kelahiran dan perbandingan umur.
c.    Individu anggota populasi dilahirkan, mempunyai umur dan mati.
Tetapi individu ini tidak mempunyai laju kelahiran dan laju kematian, karena untuk mengetahui laju harus dalam kelompok individu atau populasi.
d.    Kepadatan suatu populasi dapat ditunjukkan dengan cacah individu per unit area atau unit volume. Angka ini yang menunjukkan besarnya populasi.
Misalnya: kepadatan penduduk di suatu kota sebesar 750/kilometer persegikepadatan phytoplankton 1 juta/liter
Kepadatan dapat dibedakan jadi 2:
Kepadatan kasar: kepadatan per unit area
Kepadatan ekologi spesifik: epadatan per unit habitat
Misalnya: pada musim kering di suatu kolam dengan berkurangnya air kolam secara keseluruhan menyebabkan kepadatan kasarnya menurun. Sedangkan kepadatan ekologi spesifiknya makin meningkat, karena ikan makin tampak padat pada penurunan volume air
e.    Dalam studi populasi penting diketahui pula adanya perubahan populasi, baik penambahan atau pengurangan
f.     Faktor faktor yang mempengaruhi populasi
1)    Faktor yang tergantung kepada kepdatan populasi, umumnya faktor biologik seperti kompetisi, parasit, patogen
2)    Faktor yang tidak tergantung kepada kepadatan populasi, merupakan faktor faktor fisik misalnya iklim
g.    Dispersal (pemencaran) pada populasi: gerakan individu masuk ataupun keluar dari populasi, yang dibedakan menjadi:
1)    Imigrasi: gerakan individu memasuki suatu populasi
2)    Emigrasi: gerakan individu keluar dari populasi
3)    Migrasi: gerakan individu keluar atau memasuki kembali suatu populasi secara periodik
Komunitas
a.    Apabila suatu komunitas disusun            oleh sekelompok populasi dengan  satu atau dua dianatarnya   mempunyai pengaruh yang nyata terhadap lingkungannya dan      dapat mengontrol aliran energi ke dalam komunitas tersebut, maka spesies ini disebut spesies dominan.
b.    Kedominannya spesies pada organisme yang besar dapat ditunjukksn dengan biomassanya (berat kering). Pada komunitas hutan ditunjukkan dengan basal area dari batang tumbuhan (penampang batang) atau persentase penutupan lahan oleh tajuk.
c.    Suatu komunitas dapat diklasifikasikan menurut beberapa hal:
1)        Kenampakan struktur yang menyolok, misalnya spesies yang dominan, bentuk pertumnuhan.
2)        Habitat fisik komunitas
3)        Ciri fungsional komunitas, misal tipe metabolisme komunitas 


Rangkuman

   Ekologi lingkungan mempelajari hubungan timbal balik antara makhluk hidup denngan rumah tangga sistem penyokong kehidupan
   Komponen penyusun ekologi adalah komponen abiotic (misalnya tanah, air, udara dan lainnya) dan komponen biotic (mikrobia, tanaman, tumbuhan dan manusia sebagai individu)
   Ekologi adalah dasar ilmu lingkungan yang menghubungkan biosains (ilmu lingkungan kehayatan / life environmental science) fisikosains (ilmu lingkungan kebendaan /  physical environmental science)
   Ruang lingkup dan organisasi ekologi mulai dari: organisme, populasi, komunitas, ekosistem, ekosfer dan bumi
   Populasi: kelompok individu individu organisme yang sejenis yang menempati suatu tempat pada suatu waktu
   Komunitas: beberapa populasi yang  mendiami suatu tempat secara bersama sama
   Ekosistem: interaksi secara timbal balik antara komunitas dengan komponen abiotiknya


SOAL SOAL


1.    Terangkan apa yang dimaksud ABC Environment?
      Tuliskan dan jelaskan contoh keterkaitan antara unsur-unsur A, B dan C Environment  tersebut.
2.    Tuliskan, organisasi dan ruang lingkup kajian ekologi
3.    Jelaskan, apa yang dimaksud dispersal (pemencaran) pada populasi
4.    Ekologi menjembatani antara ilmu pengetahuan kehayatan dengan ilmu pengetahuan kebendaan. Jelaskan apa maksudnya, dilengkapi dengan contoh-contoh.
5.    Jelaskan, apa yang dimaksud ilmu lingkungan? Sama atau berbedakah dengan ekologi?





II EKOSISTEM
(PUSAT KAJIAN EKOLOGI LINGKUNGAN)

A.  Pengantar
Setelah mempelajari materi pada sub pokok bahasan ii, mahasiswa di harapkan dapat mengenali konsep ekosistem sebagai pusat kajian ekologi lingkungnan termasuk proses utama yang terjadi di dalam ekosistem serta tipe tipe ekosistem
Dalam sub pokok bahasan II menyajikan:
  1. Pengertian ekosistem
  2. Proses utama di dalam ekosistem yang  meliputi aliran energi dan daur materi
  3. Tipe tipe ekosistem di indonesia terutama  ekosistem yang mengalami kerusakan
  4. Hukum alam yang berlaku di ekosistem
B.   Kompetensi:
Mahasiswa mampu mengenali ekosistem sebagai pusat  kajian ekologi termasuk proses utama di ekosistem  yang meliputi aliran energi & daur materi, hukum alam yang berlaku di ekosistem serta tipe-tipe ekosistem di indonesia



1. PENGERTIAN EKOSISTEM

A. Konsep Ekosistem
            Suatu kawasan alam yang di dalamnya tercakup unsure-unsur hayati (organisme) dan unsure-unsur non hayati (zat-zat tak hidup) serta antara unsure-unsur tersebut terjadi hubungan timbale balik disebut  sistem  ekologi atau sering dinamakan ekosistem.
Menurut tansley:
Ekosistem atau sistem ekologi adalah  lingkungan hayati dan non hayati bersama dengan populasi atau komunitasnya
Menurut miller:
Ekosistem adalah suatu lingkungan tertentu dengan masukan dan keluaran energi sertamateri yang dapat diukur dan dihubungkandengan faktor lingkungan
Menurut undang undang pengelolaan lingkungan hidup no.23 th 1997:
Ekosistem adalah tatanan secara utuh  menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi.
Jadi ekosistem adalah: tatanan unsur lingkungan hidup yang  merupakan kesatuan utuh menyeluruh  dan saling mempengaruhi dalam membentuk keseimbangan, stabilitas, dan produktivitas  lingkungan hidup
Secara garis besar ekosistem dibedakan ke dalam:
  1. Ekosistem perairan ( ekosistem: danau, kolam,sungai dan sebagainya)
  2. Ekosistem daratan (ekosistem:hutan, padang rumput, sawah dan lainnya)
Pada setiap ekosistem, komponen penyusun sistem tersebut adalah sangat khas, misalnya ekosistem danau organisme autotropnya adalah phytoplankton, sedangkan di ekosistem hutan adalah tumbuhan. Ekosistem dapat bersifat alamiah / natural ecosystem (contoh ekosistem: pantai, laut dan sebagainya) atau ekosistem buatan / artificial ecosystem  (misal ekosistem: persawahan, hutan dan lainnya). Heterogenitas organisme hidup di ekosistem alamiah tinggi, sehingga mampu mempertahankan proses kehidupan di dalamnya dengan sendirinya.
Ekosistem buatan bersifat labil, karena tingkat heterogenitas dari organisme hidup yang ada di dalamnya rendah, sehingga untuk mempertahankan bentuk ekosistem tersebut perlu diberikan bantuan energi dari luar oleh manusia. Campur tangan manusia berlangsung terus selama manusia menghendaki ekosistem itu tetap apabila campur tangan manusia lepas, maka ekosistem buatan akan berubah menjadi ekosistem alamiah
Kalau kita melihat hanya dari fungsinya, suatu ekosistem itu terdiri atas 2 komponen, yaitu:
  1. Autotrofik (autos= sendiri; trophikos= menyediakan makanan), yaitu organisme yang mampu menyediakan atau mensintesis makanannya sendiri yang berupa bahan-bahan organik dan bahan-bahan anorganik dengan bantuan energi matahari dan khlorofil (zat hijau daun). Oleh sebab itu semua organisme yang mengandung khlorofil disebut organisme autotrofik.
  2. Heterotrofik (hetero= berbeda, lain), yaitu organisme yang mampu memanfaatkan hanya bahan-bahan organic sebagai bahan makanannya dan bahan tersebut disintesis dan disediakan oleh organisme lain. Hewan, jamur, dan jasad renik (mikroorganisme) termasuk dalam kelompok ini.
Kalau kita melihat ekosistem dari segi penyusunnya, maka dapat dibagi menjadi empat komponen, yaitu:
1.    Bahan tak hidup (abiotik, non hayati), yaitu komponen fisik dan kimia yang terdiri atas tanah, air, udara, sinar matahari dan sebagainya dan merupakan tempat untuk berlangsungnya kehidupan.
2.    Produsen, yaitu organisme autotrofik yang umumnya berupa tumbuhan berkhlorofil yang dapat mensintesis makanan dari bahan anorganik.
3.    Konsumen, yaitu organisme heterotrofik, misalnya hewan dan manusia yang makan organisme lain.
4.    Pengurai atau decomposer, yaitu organisme heterotrofik yang menguraikan bahan organic yang berasal dari organisme mati. Bakteri dan jamur termasuk dalam kelompok ini.
Jadi ekosistem merupakan satuan fungsional dasar dalam ekologi mengingat di dalamnya tercakup organisme dan lingkungan abiotik yang satu terhadap lain saling mempengaruhi. Sifat ekosistem yang universal, baik ekosistem darat, perairan maupun buatan seperti kebun dan sawah, semuanya merupakan interaksi antara komponen autotrofik dengan heterotrofik. Ada dua hal yang penting dalam sifat universal itu, adalah:
1.    Seringkali fungsi dan organisme yang menjalankan proses interaksi, terpisahkan secara fisik, dalam arti bahwa berbagai organisme itu tersusun dalam stratifikasi.
2.    Fungsi dasar umumnya terpisah oleh waktu, sehingga terdapat tenggang waktu lama antara terbentuknya bahan yang diproduksi oleh organisme autotrofik dengan pemanfaatan produk tersebut oleh organisme heterotrofik. Sebagai contoh, dalam suatu ekosistem hutan, hasil fotosintesis hanya sebagian kecil saja yang segera oleh tumbuhan itu sendiri, oleh hewan herbivore, dan oleh parasit tumbuhan itu. Sebagian besar produk fotosintesis memerlukan waktu lama sampai menjadi serasah yang  jatuh ke tanah, kemudian menjadi substrat dan bahan dasar untuk kehidupan organisme heterotrofik.






2. PROSES UTAMA DI DALAM EKOSISTEM

EKOSISTEM

PROSES UTAMA


 

DAUR MATERI                                            ALIRAN ENERGI


 

PENYOKONG KEHIDUPAN                                 RANTAI MAKANAN
(± 95 %): C, H, O, N, P, S                                          . TERESTRIAL
DAN 40 – 80 UNSUR LAINNYA                           . AKUATIK

                                                                              JARING-JARING
                                                                    MAKANAN

Gambar 5: Proses utama yang terjadi di dalam ekosistem

Proses utama yang terjadi di dalam ekosistem meliputi:
1.      Aliran energi : rantai makanan  (di ekosistem akuatik maupun tersetrial) dan jaring-jaring makanan
2.      Daur materi: 40 – 80 unsur seperti C, H, O, N, P, S, dan lain sebagainya
Ekosistem berfungsi karena adanya aliran energi dan daur materi. Saling pengaruh mempengaruhi antara aliran energi dan daur materi di dalam ekosistem akan menghasilkan keadaan homeostatis yang mantap.
Di alam terjadi aliran energi dalam bentuk rantai makanan dan jaring jaring makanan. Aliran energi ini berlangsung dari satu organisme ke organisme yang lain .

RANTAI MAKANAN

4. TERTIARY CONSUMERS (USUALLY A
TOP CARNIVORE)

3. SECONDARY CONSUMERS (CARNIVORES)

2. PRIMARY CONSUMERS (HERBIVORES)

1. PRODUCERS (PHOTOSYNTHETIC PLANTS,
ALGAE, BACTERIA)

Gambar 6:  Rantai makanan

Rantai makanan dapat dibedakan menjadi:
  1. Rantai makanan tanaman (grazing food chain), berawal dari tanaman hijau yang dimakan oleh herbivora selanjutnya herbivora dimakan oleh carnivora
  1. Rantai makanan detritus (detritus food chain) berawal dari bahan organik yang telah mati yang dipecah oleh mikroorganisme, kemudian dimakan oleh hewan pemakan detritus, kemudian dimakan predatornya
Difinisi rantai makanan secara umum:
Suatu sistem  kehidupan yang disusun oleh tumbuhan dan berbagai jenis hewan. Tumbuhan sebagai mata rantai pertama dimakan dimakan oleh hewan tertentu yang disebut konsumen i. Konsumen i dimakan konsumen ii, konsumen ii dimakan konsumen iii dan berakhir pada konsumen ke-n.
a.    Tumbuhan yang menjadi rantai pertama disebut sebagai produsen
b.    Konsumen I yang memakan tumbuhan disebut herbivora
c.   Konsumen II, III, IV, dan ke-n yang memakan hewan disebut  karnivora
Dengan demikian rantai makanan atau aliran energi itu dapat digambarkan sebagai garis lurus, karena mulai dari satu titik (tumbuhan) berakhir di satu titik lain (konsumen ke-n). Semua jenis konsumen yang mati, tubuhnya akan diuraikan oleh kelompok mikrobia yang hidup ditanah misalnya jamur dan bakteri
Mikrobia yang merombak jasad organisme yang sudah mati ini disebut sebagai pengurai (decomposer). Hasil peruraian oleh bakteri berupa unsur mineral, diserap oleh akar tumbuhan dan digunakan sebagai sumber makanan atau hara, sehingga tumbuhan tetap terjaga kelestariannya. Jadi daur materi adalah rantai makanan “disambung” oleh mikrobia yang menguraikan organisme yang sudah mati menjadi mineral. Selanjutnya mineral tersebut menjadi bagian penyusun dari tumbuhan. Daur materi ini dapat digambarkan sebagai sebuah lingkaran tertutup, karena mulai dari tumbuhan, konsumen, pengurai, kembali ke tumbuhan. Pada gambar berikut adalah contoh suatu rantai makanan ekosistem hutan.
Contoh rantai makanan 1
Tanaman hutan             belalang                    burung
serigala                            harimau
Tanaman hutan                         tikus                            burung          
serigala                            harimau        
Ø  Daur materi di dalam ekosistem hutan terbentuk saat organisme di ekosistem tersebut mati, kemudian dirombak oleh mikrobia, hasil perombakan merupakan nutrien / hara untuk tumbuhan. 
Ø  Pada gambar diatas terlihat tumbuhan penyusun ekosistem hutan sebagai mata rantai pertama konsumenatau produsen.
Ø  Sebagai mata rantai kedua atau konsumen I yang sifatnya herbivora adalah belalang.
Ø  Selanjutnya dalam gambar terlihat konsumen II, III, IV yang semuanya hewan carnivora yaitu burung, serigala dan harimau.
Apa yang terjadi apabila salah satu mata rantai makanan tersebut tidak berfungsi? Maka kemungkinan yang terjadi adalah sebagai berikut:
  1. Serangga yang tinggal dan makan daun daunan pada hutan yang terbakar akan kehilangan tempat tinggalnya dan sumber makanannya dan akan pindah ke tempat lain atau migrasi. Ditempat yang baru mereka kelelahan dan kelaparan akan memakan tanaman pertanian.
  1. Burung yang biasanya memangsa serangga akan kehilangan sumber makanannya, sehingga burung burung ini akan meninggalkan habitatnya.
  1. Perginya burung menimbulkan rasa aman bagi tikus tikus yang semula juga dimangsa burung tersebut. Karena ketiadaan predator maka tikus akan lebih leluasa berkembang biak dan semakin meningkat jumlahnya.
  1. Serigala yang kehilangan mangsanya karena burung burung tadi melakukan migrasi terpaksa mencari sumber makanan lain. Tidak jarang serigala ini masuk kampung memangsa ternak penduduk
  1. Karena seigala sudah tidak ada lagi dihutan maka harimaupun kehilangan mangsanya sehingga masuk kampung menyerang ternak penduduk termasuk manusia
CONTOH RANTAI MAKANAN 2
Di dalam ekosistem perairan terbentuk rantai makanan antara lain:
      Fitoplankton              zooplankton              ikan kecil           ikan besar
      manusia
Gangguan ekosistem perairan dapat terjadi, misalnya apabila menangkap ikan dengan tuba, memakai bahan peledak atau aliran listrik.

Gangguan pada rantai makan ekosistem perairan:
1.    Pada rantai makanan ekosistem perairan dapat terjadi peristiwa yang disebut akumulasi biologik dan penggandaan biologik (biological accumulation and magnification).
2.    Pada saat suatu predator memakan mangsa, maka zat anorganik tertentu atau substansi kimia misalnya ddt yang berasal dari tubuh mangsa itu akan diakumulasi oleh pemangsa / predator.
3.   Pasangan mangsa-predator adalah bagian dari suatu rantai makanan sebagai “mata rantai”.
4.   Predator pada suatu rantai makanan menjadi mangsa bagi predator lainnya dan seterusnya, sehingga diujung rantai makanan konsentrasi suatu zat atau substansi kimia yang terbawa bersama makanan akan berlipat ganda, peristiwa ini disebut penggandaan biologi.
5.   Dengan demikian adalah mungkin untuk menghindari kemungkinan terkontaminasi makanan yang mengandung bahan berbahaya beracun (B3), caranya dengan tidak memakan hanya satu jenis dan / atau dari satu sumber makanan saja.
6.   Menganekaragamkan jenis makanan dapat mengurangi kemungkinan keracunan B3 karena dengan menu yang berganti ganti kita terhindar menjadi ujung suatu rantai makanan tertentu.
Bahan bahan kimia termasuk bahan kimia essensial yang diperlukan makhluk hidup, akan bersirkulasi menurut polanya sebagai daur materi atau daur biogeokimiawi yang dapat dibedakan menjadi:
  1. Daur dalam bentuk gas, apabila kutub reservoirnya berada di atmosfer atau hydrosfer
  2. Daur dalam bentuk sedimen, apabila kutub reservoirnya berada dalam sedimen atau batuan induk
Daur bentuk gas ini dapat dikatakan lebih sempurna daripada daur dalam bentuk sedimen, karena kutub reservoir yang ada di atmosfer dapat secara cepat mengatasi apabila terjadi ketidak seimbangan di dalam daur.
Misal:
Dengan adanya kebakaran hutan di suatu lokasi akan mengakibatkan naiknya kadar CO2 di udara secara lokal. Kenaikan konsentrasi ini akan segera diimbangi dengan pemerataan.
Manusia cenderung tidak hanya menggunakan salah satu senyawa yang ada di alam melainkan juga menggunakan seluruh substansi kimia serta memasukan senyawa sintetis ke dalam daur. Hal ini mengakibatkan daur materi menjadi tidak sempurna atau lebih buruk lagi tidak terjadi daur kembali.
Contoh
Berubahnya pola membungkus dagangan di pasar, dari daun pisang menjadi kantong plastik. Jelaslah bahwa daun pisang merupakan bahan organik yang dapat di daur ulangkan kembali, sedangkan plastik merupakan senyawa sintetis yang tidak dapat terdaur ulangkan, sehingga daur materi di lingkungan menjadi macet.






















Gambar 7 : Diagram daur materi di alam

Dalam hal hal tertentu pola daur materi (khusunya nutrien)  di daerah tropik berbeda di daerah empat musim. Di daerah dingin sebagian besar bahan organik dan nutrien yang tersedia berada. Di lapisan tanah atau sedimen setiap waktu. Sedangkan di daerah tropis sebagian besar bahan organik berada sebagai biomassa dan akan didaur ulangkan di dalam struktur organik dari sistem tersebut. Oleh karena itu sangatlah tidak bijaksana untuk mengadopsi strategi pertanian dengan tanaman musiman dan pola budidaya tunggal ke daerah tropik
Daur bahan kimia yang terikat di dalam tanah akan mengikuti pola daur sedimen pada umumnya, dimana terlihat proses erosi, sedimentasi, aktivitas gunung api dan proses fisik lainnya. Karena prosesnya berjalan sangat lambat dan terjadi secara alami, maka unsur yang tersedia untuk komunitas di biosfer bergantung pada jenis batuan yang terangkat oleh gaya endogen ke permukaan bumi











Contoh daur materi

Tumbuhan                Hewan
                        Bakteri                        Ekskresi
                                                                                                                        Gigi
Sintesa                                                                                                                  Tulang
Protoplasma                                      Batuan Fosfat                                                                                               Deposit Guano
                                                            Dan Fosil  Tulang

















Burung dan                                                  Erosi                          
Ikan                                                                                                    Bakteri
                                                                                                            Pembentuk
                                                                                                            Fosfat




                                                                                    Aktivitas
                                                                                    Gunung Api
                                                                       
                                                                        Fosfat
                                                                        Terlarut
Sedimen di Laut Dangkal

Masuk ke Sedimen Dalam

Gambar 8: Daur fosfordi alam
Pada daur fosor, unsure fosfor merupakan unsure yang penting bagi kehidupan organisme, tetapi persediaannya di alam terbatas, sehingga dipandang dari segi ekologi, fosfor sangat menarik untuk diselidiki. Dengan kemampuannya untuk membentuk ikatan kimia berenergi tinggi, fosfor sangat penting dalam transformasi energi pada semua organisme, umumnya lebih lebih besar daripada dalam batuan, tanah, dan dalam air. Apabila terjadi kehilangan fosfor karena mengalir ke tempat lain dalam daur suatu ekosistem, dapat membawa akibat yang serius terhadap kelangsungan hidup organisme dalam ekosistem itu. Daur fosfor lebih sederhana dan kurang sempurna. Bahan organic diuraikan, kemudian jadi fosfat yang terlarut dan terdedia untuk tumbuhan sebagai zat hara. Sumber terbesar fosfor adalah batuan-batuan dan endapan-endapan lain yang terbentuk selama jutaan tahun yang silam. Sumber ini secara berangsur-angsur mengalami erosi, bersamaan dengan itu pila senyawa fosfat dilepaskan ke dalam ekosistem. Tetapi sebagian besar senyawa fosfat hilang ke laut dan sebagian diendapkan di laut-dalam. Pengembalian fosfor ke dalam daur tidak seimbang dengan banyaknya fosfor yang hilang. Di berbagai bagian dunia saat ini, tidak ada usaha pengangkatan endapan fosfat ke permukaan laut, demikian pula tidak cukup kegiatan burung-burung laut dan ikan untuk mengembalikan fosfor ke daratan. Memang burung-burung laut sebenarnya memegang peranan penting dalam pengembalian fosfor ke dalam daur, seperti endapan tinja burung guano di pantai Peru. Tetapi peranan burung ini, meskipun sampai sekarang masih berlanjut, tidaklah sebanyak dan sebaik masa lampau. Kegiatan manusia yang meningkat telah mempercepat kehilangan fosfor, sehingga membuat daur fosfor menjadi lebih tidak sempurna lagi. Bila kegiatan ini tidak dikekang, pada suatu saat, manusia harus mencari sumber lain untuk melengkapi daur fosfor besar-besaran, bila manusia tidak ingin kelaparan.

            Tumbuhan                                        Hewan                       Ekskresi Urea
                                                Bakteri

Sintesa                                              Bakteri &                                Bakteri & Jamur
Protein                                               Ganggang                             Pembusuk
                                                            Pemfiksir
                                                            Nitrogen
Nitrat                                                                           Nitrogen                 Asam Amino &
                                                                                    Di Udara                sisa bahan
                                                                                                                    Organik
Burung Laut                         Elektrifikasi &                       
Dan Ikan                                Fiksasi Fotokimia                                        
                                                                                                                    Bakteri
                                                                                                                    Pembentuk
                                                                                                                    Amonia
Sedimen di Laut                   Bakteri Denitrifikasi
Dangkal
                                                                                                                    Amonia
 

                                                                                    Bakteri Nitrit                         
                                                                                                                     Aktivitas
                                                                                                                     Gunung Api
                                                                                                                    

Masuk ke Sedimen              Bakteri Nitrat            Nitrit                         Batuan Induk
                                                           

Gambar 9: Daur Nitrogen di alam

Pada daur nitrogen, udara merupakan gudang nitrogen, karena udara 80 % terdiri dari gas nitrogen bebas sebagai N2. Nitrogen bebas ini dapat ditambat, terutama oleh tumbuhan yang berbintil akar (misalnya jenis polong-polongan) dan beberapa jenis ganggang. Nitrogen bebas juga dapat bereaksi dengan hydrogen atau oksigen dengan bantuan kilat atau petir. Di Negara-negara maju, nitrogen bebas dikumpulkan untuk keperluan industri. Dalam bintil-bintil akar terdapat bakteri yang hidup bersimbiosis dengan tumbuhan inangnya. Bakteri ini mampu menambat nitrogen bebas dari udara menjadi nitrat, melalui tahap pembentukan ammonium dan nitrit. Proses yang sama terjadi penambatan nitrogen oleh ganggang biru hijau, yang banyak terdapat di sawah. Ganggang ini hidup bersama paku-paku air yang disebut kayambang (Azzoella pinnata). Proses penambatan oleh organisme disebut fiksasi biologis.  Nitrat dapat diserap oleh tumbuhan untuk keperluan sintesis protein melalui proses metabolisme. Selanjutnya tumbuhan menjadi makanan berbagai jenis hewan. Tumbuhan dan hewan yang mati mengalami proses dekomposisi melalui kegiatan jasad renik, yang melepaskan hasil dekomposisi itu ke dalam lingkungannya, antara lain dalam bentuk ammonium. Langkah dari protein ke nitrat menghasilkan energi bagi organisme pengurai. Langkah sebaliknya dari nitrat ke protein memerlukan energi dari sumber lain, seperti dari bahan organic atau cahaya matahari. Sebagian nitrat yang berasal dari tiga macam fiksasi dan dekomposisi itu dilarutkan air tanah dan dipindahkan ke ekosistem lain, atau hilang menjadi endapan. Nitrat juga dapat menjadi nitrit oleh kegiatan bakteri. Nitrogen dalam biosfera dapat pula datang dari endapan dangkal di lautan atau dari letusan gunung berapi.


3. TIPE EKOSISTEM

Untuk keperluan kajian yang menyangkut amdal (analisis mengenai dampak lingkungan) dilihat dari sudut  dampak pembangunan terhadap lingkungan hidup di indonesia, menurut  Tandjung (1999) ada 7 ekosistem utama:
  1. Hutan hujan tropis
  2. Terumbu karang
  3. Mangrove
  4. Pantai
  5. Sungai
  6. Pegunungan dan gua kapur
  7. Binaan
Ekosistem yang terancam kelestariannya adalah:
  1. ekosistem hutan hujan tropis
  2. ekosistem terumbu karang
  3. ekosistem mangrove
EKOSISTEM HUTAN HUJAN TROPIS

         Ekosistem ini berada di wilayah tropika termasuk indonesia dengan curah hujan 2000-4000 mm/tahun.
         Hutan hujan tropis di indonesia terdapat di kalimantan dan sumatra yang mendapat hujan setiap tahun dan mempunyai kelembaban sekitar 80%.
         Hutan hujan tropis indonesia adalah penyusun utama sumber daya hayati flora darat
Permasalahan yang ada:
1.   Kerawanan yang dihadapi oleh   hutan             hujan tropis adalah kurang            ketatnya p            engawasan pada saat eksploatasi atau pemanfaatan            hutan             produksi
2.   Adanya konversi areal hutan  yang berisi hutan lindung untuk kepentingan lain misalnya ada jalur         mangrove      atau bagian taman nasional yang          diubah untuk pemukiman atau perkebunan       inti
                        contoh kasus:
Pantai indah kapuk di Jakarta Dan Taman Nasional   Pelaihari        Kalimantan   Selatan.
3.   Kebakaran hutan tahun 1997 sampai     sekarang, menyebabkan kepunahan             bermacam-macam flora      dan fauna
Dihutan tropis terdapat:
1.   Tumbuhan kurang lebih 25.000 jenis termasuk 3000 jenis anggrek
2.   Tumbuhan bernilai ekonomi tinggi,         antara lain meranti merantian,             kacangkacangan, jambu jambuan
3.    Lumut dan ganggang 35.000 jenis
4.    Satwa ada 220.000 jenis yang terdiri dari mamalia 515 jenis, ikan 4000 jenis, reptil 1000 jenis, burung 1519 jenis dan serangga 200.000 jenis.
FUNGSI HUTAN HUJAN TROPIS
  1. Pengatur tata air
Ø  Peristiwa berubahnya air menjadi uap dan bergerak dari permukaan tanah atau permukaan air ke udara disebut penguapan atau evaporasi, peristiwa penguapan dari tanaman disebut transpirasi peristiwa keduanya secara bersama disebut evapotranspirasi.
Ø  Penguapan air pada tanah gundul mula mula cepat, sebab air yang menguap adalah yang terdapat dipermukaan tanah.
Ø  Kecepatan penguapan air melalui permukaan tanah gundul relatif lebih sedikit dibandingkan dengan melalui tanah yang tidak gundul, tetapi apabila diatas tanah terdapat seresah, maka kecepatan penguapan lebih lambat
Ø  Seresah yang terdapat di bawah pepohonan, memudahkan air masuk ke dalam tanah (mencegah banjir), jadi dalam hal ini hutan memperbesar daya penyimpanan air tanah
  1. Penyerap karbondioksida
Ø  Karbondioksida yang terdapat diudara, dengan proses fotosintesis digunakan oleh tanaman untuk pertumbuhan,     sehingga hutan dikatakan sebagai          paru paru dunia
Ø  Perlu diperlu dipertanyakan berapa persen hutan yang masih ada di negara yang telah maju. Mereka telah menggunakan hutannya untuk pembangunan dimasa yang telah silam. Disisi lain karbondioksida banyak berasal dari negara maju, ironisnya untuk menyerap karbondioksida ditugaskan bagi hutan negara yang sedang berkembang
  1. Fungsi hutan yang lain
Ø  Sumber plasma nuftah sangat penting, karena berbagai misteri kehidupan yang terdapat dalam hutan terlalu banyak yang belum diketahui
Ø  Habitat satwa
Ø  Penciptaan iklim mikro
Ø  Bioindikator terjadinya hujan asam dan pencemaran udara yang lain
Ø  Pencegah erosi dan banjir      
EKOSISTEM TERUMBU KARANG

Yang terdapat di ekosistem terumbu karang:
1.    Terumbu karang adalah tipe ekosistem yang sangat khas tropis, dan merupakan gabungan dari berbagai macam hewan, yang membuat kerangka di luar tubuhnya sebagai pelindung yang dibuat dari bahan kapur (kalsium karbonat).
2.    Mereka hidup berkoloni dengan bentuk berbagai macam: seperti pohon, kubah, setengah bola basket, cangkir. Setiap anggota koloni  mempunyai hubungan dengan anggota di sekitarnya.
3.    Hidup di daerah laut tropis dengan          kedalaman 30 meter, suhu 26 derajat celcius, kadar garam 33 permil.
4.    Yang ada di ekosistem ini: plankton, rumput laut, ikan, benthos, moluska, crustacea. Penyusun terumbu karang: scleractina bersimbiosis dengan algae zooxanthellae.
5.    Dalam hal kesatuan ini algae zooxanthellae mendapatkan karbondioksida untuk proses fotosintesis dan zat hara dari hewan-hewan terumbu karang. Oleh karena itu terumbu karang harus menempati habitat yang selalu mendapatkan sinar matahari dan airnya jernih. Sebagai sebuah ekosistem, terumbu karang disusun oleh rantaii dan jaring makanan berbagai jenis biota laut.
6.    Fungsi ekosistem terumbu karang: pelindung pantai dari hempasan ombak.
Permasalahan yang ada:
1.    Abrasi pantai ulu watu dan Pantai Tanah Lot akibat pengrusakan terumbu karang yang ada
2.    Kerawanan lain dari ekosistem terumbu karang adalah adanya kolektor kerang dan benda benda laut yang mau membeli dengan harga mahal benda benda yang menarik.


EKOSISTEM MANGROVE

Habitat pertumbuhan mangrove:
1.   Pasir berlumpur (di pantai yang  ada muara sungai).
2.   Air payau.
3.   Tumbuhan penyusun: bakau & api-api.
Yang terdapat di ekosistem mangrove:
1.    Sekitar 4 juta hektar hutan mangrove tersebar dibeberapa pantai antara lain Sumatra, Jawa, Kalimantan dan Papua.
2.    Di pantai Jakarta Utara terdapat kawasan hutan lindung dan cagar alam Muara Angke. Kawasan hutan itu tergolong komunitas mangrove yang disusun oleh berbagai jenis tumbuhan terutama bakau bakau (Rhizophora spp.) Dan api api (Avicennia spp., Sonneratia spp.).
3.    Komunitas mangrove yang tumbuh di pinggir pantai ini ke arah daratan membentuk ekosistem rawa.
4.    Semenjak kawasan tersebut berubah fungsinya menjadi tempat pemukiman mewah yang disebut pantai indah kapuk, desa di sebelah pemukiman itu sering mengalami banjir pada musim hujan dan air sumur penduduk jakarta utara mulai terasa agak asin, semua ini terjadi karena gangguan terhadap fungsi ekosistem.
Fungsi ekosistem mangrove:
1.   Menjaga garis pantai, melindungi daratan dari kemasukan air laut (intrusi). tanpa mangrove pantaiakan mengalami pengikisan, air laut akan mencemari air tanah.
2.   Hutan mangrove tempat kehidupan berbagai satwa terutama monyet dan burung. Kotoran satwa ini berperan sebagai pemupuk perairan pantai, menyuburkan          pertumbuhan plankton, jasad             renik (mikroskopik) yang menjadi             makanan udang danikan.
3.   Ekosistem mangrove menjadi tempat bertelur, berpijah dan tumbuh ikan dan udang (breeding, ground, nursery ground).
4.   Mangrove dapat melindungi laut dari pencemaran yang bersumber dari laut.
5.   Mangrove yang dipelihara dan dibudidayakan, sebagian diperlukankayunya untuk pembangunan         seperti di jawa barat, pembangunan        bagan, bangunan penangkap ikan di             lepas pantai memerlukan kayu     mangrove.

Rangkuman fungsi ekosistem mangrove
Fisik
Biologi
Ekonomi
  1. Menjaga garis pantai dan tebing sungai
  2. Mempercepat accresion
  3. Mencegah banjir
  4. Mengolah limbah
  1. Tempat tumbuh nener, benur & larva kerang
  2. Tempat tinggal kera dan burung
  3. Habitat biota lain
  1. Tambak ikan dan udang
  2. Ladang garam
  3. Sumber kayu
  4. Rekreasi

Keberadaan mangrove tidak dapat dilepaskan dari adanya rawa. Fungsi rawa adalah untuk menjaga kelestarian air tanah, mencegah intrusi air laut.Rawa seperti genangan air permukaan lain yang berupa telaga, situ, lebak, embong dan sejenisnya berperan ganda pula sebagai wadah tangkapan hujan (mencegah banjir) dan wilayah resapan (mencegah intrusi air laut). Kerugian besar yang mungkin timbul dengan perubahan kawasan rawa dan mangrove menjadi kawasan pemukiman adalah bencana banjir yang akan melanda daerah sekitarnya. Kawasan suaka margasatwa pelaihari, kalimantan selatandido, terdiri atas hutan rawa air tawar seluas 20.000 hektar dan ke arah pantai terdapat 4000 hektar hutan mangrove. Hutan rawa air tawar tersebut didominasi jenis meranti (Shorea balangeran). Dikawasan hutan mangrove kawasan suaka margasatwa pelaihari terdapat jenis Sonneratia speciosa, Calophyllum speciosa dan Vitex speciosa. Yang sangat bernilai ekologi dan konservasi di kawasan suaka margasatwa pelaihari  adalah kijang mas (munticus muntjak), kera hidung besar (nasalis larvatus) dan harimau dahan. Sayangnya kawasan ini sebagian lahannya sudah dirubah fungsinya untuk hutan tanaman industri (HTI).


3. HUKUM ALAM 
YANG BERLAKU DI EKOSISTEM /LINGKUNGAN


A.   Hukum konservasi energi (the law of energy conservation):
Energi tidak dapat diciptakan ataudimusnahkan, energi hanya bisa dirubah menjadi bentuk energi lain. Ilustrasi dari hukum konservasi  energi ditunjukkan pada gambar  10 dan 11 berikut ini:

ENERGI MATAHARI
 
                                                                       





ENERGI PANAS




            DAERAH DINGIN                                                    DAERAH PANAS
                                                        ENERGI ANGIN

                                                        MENGGERAKAN




                        AIR                                                                 TURBIN
                        OTEC                                                             GENERATOR
                                                                                                TENAGA LISTRIK
                                                                        MENGGERAKAN MESIN, DLL
Gambar 10: Perubahan dari energi matahari menjadi  energi lain

Dari gambar 10 dapat dijelaskan sebagai berikut:
  1. Energi matahari adalah energi panas yang sesampaianya di bumi memanaskan daratan dan lautan.
  2. Daratan mempunyai massa lebih padat dari air laut maka lebih dulu menjadi panas dibandingkan lautan.
  3. Tempat yang panas materinya menjadi renggang, sehingga tekanannya menjadi turun.
  4. Dengan demikian tekanan di darat lebih rendah daripada di lautan, sehingga terjadi aliran udara yang disebut angin dari laut ke darat pada siang hari.
  5. Aliran angin ini adalah energi yang kita sebut energi kinetik karena dapat menggerakkan baling baling turbin.
  6. Energi dari baling baling ini dapat memutar dinamo atau generator listrik, sehingga dihasilkan tenaga listrik.
  7. Tenaga atau energi listrik dapat berubah menjadi penggerak motor atau tenaga mesin.
  8. Air laut yang digerakkan angin berubah menjadi gelombang. Laut dengan gelombang yang cukup tinggi dapat diubah menjadi sumber tenaga listrik yang dikenal dengan istilah otec (ocean thermal energy conversion)
  9. Energi listrik dapat pula dirubah menjadi energi panas misalnya setrika listrik, dapat pula berubah menjadi energi suara misalnya pada pengeras suara atau lempeng suara yang disebut laser disk.


Gambar 11: Energi hanya pindah tempat, jadi tidak dapat dihilangkan
Keterangan:
SM            : Sinar Matahari
TT              : Transpirasi Tanaman
EV             : Evaporasi
RT             : Radiasi Tanah
RR            : Radiasi Rumah
RR1          : Radiasi Rumah Baru
RK            : Radiasi Kapal
Dari gambar 11 dapat disimpulkan:
konversi tumbuhan menjadi perumahan / lahan terbuka dapat menambah energi panas atau naiknya suhu bumi.
Dari gambar 11 dapat dijelaskan sebagai berikut:
  1. Sinar matahari (SM) yang merupakan sumber energi jatuh di bumi. Untuk memudahkan memahami perubahan energi ini, energi matahari yang jatuh ke bumi adalah 100 %.
  2. Untuk memudahkan pengertian, energi sinar matahari yang 100 % itu jatuh pada 4 bagian bumi yaitu tanaman (hutan), bangunan (rumah), tanah dan perairan terbuka.
  3. Ada 2 sifat energi yang sampai ke bumi
            Pertama: energi tersebut terpakai untuk kegiatan di bumi, misalnya untuk kegiatan tanaman yang disebut transpirasi tumbuhan (TT) atau untuk penguapan air yang disebut evaporasi (EV).
            Kedua: energi dipantulkan sebagai radiasi panas, misalnya pemantulan oleh rumah (RR) dan pemantulan oleh tanah (RT)
            dalam hal ini untuk mempermudah pengertian kita anggap TT, EV, RT, RR sepadan jumlahnya jadi masing masing 25 % sehingga dapat digambarkan persamaan:
                 
                  SM = TT + EV + RT + RR
  1. Dalam persamaan tersebut, energi yang dipantulkan ke alam sekitar atau lingkungan adalah RT + RR saja yaitu 50% jumlahnya yang kita rasakan sebagai suhu lingkungan kita, sementara 50% lainnya terpakai TT dan EV
  2. Jika kita simulasikan, misalnya semua tanaman dibabat habis untuk pemukiman sehingga 75% energi (RR1 + RT + RR) dipantulkan, sehingga suhu terasa lebih panas dibandingkan dengan ketika tanaman masih ada
  3. Semua permukaan perairan telah ditempati oleh kapal kapal atau perairan telah berubah menjadi pelabuhan, panas sinar matahari yang semula digunakan untuk evaporasi atau penguapan (EV) sekarang dipantulkan oleh kapal kapal. Terlihat semua energi sinar matahari (SM) dipantulkan sebagai radiasi panas (RR1, RK, RT, RR) sehingga lingkungan dengan pelabuhannya terasa semakin panas.
  4. Konversi tumbuhan (hutan) dan perairan menjadi perumahan atau lahan terbuka menyebabkan naiknya suhu bumi. Karena tumbuhan hijau berperan sebagai penyerap energi panas, itulah sebabnya untuk mendapatkan lingkungan yang segar dan sejuk diperlukan penghijauan yang memadai. Dan tumbuhan dapat mempengaruhi suhu lingkungan sekitarnya, hutan dikatakan sebagai pengatur iklim mikro (micro climate).
  5. Terlihat pula bahwa pelabuhan dengan kapal kapal yang merapat di dermaga seolah olah menyebabkan suhu lingkungan meningkat. Hal ini benar, nyatanya Tanjung Priok di Jakarta lebih tinggi suhunya dari pada Kebayoran Baru, Tanjung Mas di Semarang lebih panas daripada di daerah Candi. Dalam skala yang lebih besar kota kota pelabuhan seperti Jakarta, Semarang lebih panas dari pada Bogor dan Salatiga.
  6. Contoh lain terkait hukum konservasi energi di bidang kimia:reaksi oksidasi molekul glukosa
C6H12O6 + 6O2                       6CO2 + 6H2O
Digambarkan bahwa tidak terjadi perubahan dalam arti pertambahan atau pengurangan energi, yang terjadi hanya perubahan bentuk dari glukosa dan oksigen menjadi karbon dioksida dan air dengan jumlah energi yang tetap
Hukum konservasi merumuskan tentang pemakaian energi:
Energi dapat dikelompokkan menjadi 2 kategori (Nebel, 1991):
Ø  Energi kinetik atau energi aktif
Ø  Energi potensial atau energi berkemampuan
Energi kinetik adalah energi yang menyebabkan gerak atau aksi. Energi potensial mempunyai kemampuan menghasilkan energi kinetik. Sinar matahari, radiasi panas, roda kincir dan listrik adalah contoh energi kinetik. Energi potensial, misalnya air terjun, yang mampu menggerakkan turbin listrik, contoh lainnya adalah energi kimia di dalam baterai, bahan bakar fosil, bahan peledak dan kayu bakar. Dari gambaran tentang energi di atas jelaslah bahwa yang dibicarakan adalah masalah alam.
A.  Hukum entropi (the law of energyentropy)
Setiap pemakaian bentuk  atau unit energi tidak pernah tercapai 100 % efisiensinya, sehingga ada sisa  energi yang tidak terpakai  (entropi). Karena entropi itu tidak terpakai  pada proses itu maka entropi  disebut limbah. Jadi berdasarkan konsep ini, dengan melihat hampir semua kegiatan adalah perubahan energi dari satu bentuk kebentuk lain maka berarti pencemaran (limbah/entropi) selalu terjadi .
Dari hukum entropi  tsb ada 2 hal yg penting:
  1. Pencemaran selalu terjadi dan tidak dapat dihindari karena adanya entropi
  2. Pencemaran dapat diperkecil karena sesungguhnya entropi itu adalah sumber energi bagi proses lain.








Contoh sederhana

BALOK KAYU                            PAPAN                                  MEJA
                                                                                                ENTROPI
                        SERBUK GERGAJI             ENTROPI
                                                                       
                                                                        POTONGAN KAYU
                                    BAHAN BAKAR
ENTROPI          ASAP, GAS

                                    ENERGI PANAS                 
Gambar 12:  Contoh ilustrasi dari hukum konservasi

Berdasarkan gambar 10, dapat dijelaskan sebagai berikut:
  1. Pada saat membuat papan dari balok kayu maka entropinya adalah serbuk gergaji, karena limbah serbuk gergaji ini pada hakekatnya adalah energi, maka dapat dipakai untuk proses lain misalnya sebagai bahan bakar.
  2. Papan tadi pada saat dibuat menjadi meja atau almari, limbahnya adalah potongan kayu yang dapat sebagai limbah andaikata tidak digunakan atau untuk proses lain misalnya sebagai kayu bakar.
RANGKUMAN
         Ekosistem: tatanan unsur lingkungan hidup yang  merupakan kesatuan utuh menyeluruh dan saling mempengaruhi dalam membentuk keseimbangan, stabilitas, dan produktivitas lingkungan hidup
         Ekosistem dapat bersifat alamiah / natural ecosystem atau ekosistem buatan / artificial ecosystem
         Proses utama di dalam ekosistem meliputi aliran energi (rantai makanan) dan daur materi
         Rantai makanan: suatu sistem  kehidupan yang disusun oleh tumbuhan dan berbagai jenis hewan. Tumbuhan sebagai mata rantai pertama dimakan dimakan oleh hewan tertentu yang disebut konsumen i. Konsumen i dimakan konsumen ii, konsumen ii dimakan konsumen iii dan berakhir pada konsumen ke-n.
         Daur materi: adalah rantai makanan “disambung” oleh mikrobia yang menguraikan organisme yang sudah mati menjadi mineral.
         Energi tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan, energi hanya bisa berubah dari satu bentuk ke bentuk lain. Setiap pemakaian bentuk  atau unit energi tidak pernah tercapai 100 % efisiensinya, sehingga ada sisa energi yang tidak terpakai (entropi).


SOAL SOAL
1.    Jelaskan yang dimaksud dengan:
  1. Eutrophication
  2. Biological magnification
c.    Self purification
2.    Mengapa di ekosistem perairan dapat terjadi peristiwa akumulasi dan penggandaan biologik suatu zat pencemar?
Apa akibat yang ditimbulkan oleh peristiwa tersebut?
3.    Mengapa di ekosistem perairan dapat terjadi peristiwa  eutrofication ?
Apa akibat yang ditimbulkan oleh peristiwa  tersebut?
4.    Jelaskan bagaimana fungsi ekosistem mangrove, terumbu karang dan hutan hujan tropis bagi lingkungan hidup di Indonesia?
5.    Terangkan tentang hukum konservasi energi, termasuk kaitan hukum tersebut dengan proses terjadinya perubahan iklim mikro








III. MASALAH KERUSAKAN LINGKUNGAN HIDUP

A.  Pengantar
Setelah mempelajari materi pada sub pokok bahasan iii, mahasiswa di harapkan mampu mengevaluasi masalah kerusakan lingkungan hidup yang sedang berkembang di Indonesia maupun yang bersifat global mulai
pencemaran lingkungan termasuk kaitannya dengan kesehatan lingkungan, masalah pertumbuhan penduduk, limbah B3.
Dalam sub pokok bahasan ii menyajikan:
1.    Pencemaran lingkungan
2.    Pencemaran lingkungan kaitannya dengan kesehatan lingkungan
3.    Masalah lingkungan global
B.   Kompetensi:
mampu mengevaluasi masalah kerusakan lingkungan hidup yang sedang berkembang di indonesia maupun yang bersifat global mulai pencemaran lingkungan termasuk kaitannya dengan kesehatan lingkungan, masalah pertumbuhan penduduk, limbah b3,



1.  PENCEMARAN LINGKUNGAN

Menurut uu pengelolaan lh no.23 1997 Pencemaran lingkungan adalah masuknya /  dimasukannya makhluk hidup,  zat, energi dan atau komponen lain kedalam lingkungan dan atau berubahnya tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia atau proses alam,  sehingga kualitas lingkungan turun, sampai ke tingkat tertentu yang  menyebabkan lingkungan menjadi kurang / tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya.
  1. Pencemaran oleh makhluk hidup
a.   Eceng gondok (Eichornia crassipes)
Tumbuh didanau yang berfungsi:  PLTA,   irigasi, perikanan.
Sifat alami eceng gondok:
·         Sambil menyerap unsur hara di air, terjadi pula penyerapan air dan penguapan melalui daun  (evapotranspirasi atau penguap peluhan).
·         Dapat menyerap oksigen  terlarut di air sehingga kadarnya berkurang (hypoxia) atau  oksigen terlarut habis (anoxia).
·         Karena punya kemampuan menyerap materi sehingga tanaman ini dan tumbuhan air lainnya digunakan untuk mengatasi pencemaran organik di perairan.

b.    Bakteri coli
Meruapakan indikator pencemaran  tinja, karena bakteri coli berasal dari saluran pencernaan (colon) manusia dan hewan vertebrata
  1. Pencemaran oleh zat
Zat: suatu unsur kimia terlarut di air atau cairan lain dalam bentuk  ion-ion terutama ion logam
             zat input                    tubuh manusia: metal merkuri (CH2Hg)
Didalam tubuh manusia hanya  ion merkuri yang merusak system  syaraf, dan bila kena janin di rahim ibu menyebabkan bayi lahir cacat jasmani dan IQ rendah (minamata)
Keracunan logam kadmium / cd (itai- itai):
Ø  Fase awal:  warna kuning pada gigi, kemampuan mencium bau hilang, mulut kering
Ø  Jumlah sel darah merah menurun terjadi kerusakan sum-sum tulang
Ø  Metabolisme ca terganggu diikuti melembeknya tulang dan patah  tulang sehingga terjadi deformasi kerangka tulang
  1. Pencemaran oleh energi:
Energi berupa panas ( panas yang  terbawa air bekas pendinginan mesin pabrik) dan energi berupa suara (pabrik,motor penggerak)
  1. Pencemaran oleh komponen kimia
       Komponen kimia: ikatan kimia berupa
Ø  Pestisida (insektisida, rodentisida, nematosida, herbisida, fungisida).
Ø  Pupuk yang berlebihan
Ø  Limbah industri


KLASIFIKASI PENCEMARAN LINGKUNGAN

  1. Pencemaran lingkungan oleh kegiatan rumah tangga dan perorangan
a.   Kegiatan perorangan
Merokok               perokok pasif
Ø  Gas CO (mengandung CD, NI, dan logam lain tergantung kondisi tanah tempat tumbuhnya tanaman tembakau.
Ø  NI dan CD diduga penyebab kanker paru-paru.                 
Ø  Gas co bereaksi dengan hb darah     dapat menimbulkan keracunan    darah.
Ø   Tar dan nikotin merusak jaringan      paru paru.



b.   Kegiatan rumah tangga
Sampah rumah tangga berasal          dari semua keperluan dapur dan bahan bahan untuk membungkus     dan dikelompokan menjadi 2:
                  1). Sampah organik
Mudah terurai bila ditimbun, contoh : tumbuh-tumbuhan dan      hewan
 2). Sampah anorganik
Sulit terurai bila ditimbun, contoh:
                              Gelas              ± 1 juta tahun
                              Plastik                        ± 240 tahun
                              Logam            ± 100 tahun
                              Aluminium    ± 500 tahun
                              Timah             ± 100 tahun
  1. Pencemaran lingkungan oleh kegiatan pertanian
Kegiatan pertanian:   pembukaan lahan    penanaman, pemakaian pupuk dan pestisida            , kegiatan waktu panen, pasca panen.
a.    Pembukaan lahan
         pembukaan lahan secara besar-besaran dengan alat berat (menimbulkan kebisingan)
         Keterlambatan menanam : menimbulkan erosi pada musim hujan dan menyebabkan gangguan kehidupan perairan dan terjadi sedimentasi
b.   Kegiatan pertanian
·          pemupukan berlebihan: menimbulkan eutrofikasi
·         Pemakaian pestisida berlebihan: buah & sayuran terkontaminasi.
c.   Kegiatan panenpencemaran akibat sisa panen
Jerami (media jamur merang dan bahan baku kertas)  sisa sayuran dan buah yang busuk (makanan ternak dan kompos)
d.   Kegiatan pasca panen
Pencemaran akibat proses pengolahan hasil panen: sekam (penggilingan padi)  kulit buah dan biji (industri pengalengan buah).
3.   Pencemaran lingkungan akibat     kegiatan   industri
a.     Pencemaran air
·         Parameter fisik: bau rasa, suhu,   DHL, partikel padat terlarut,
       kekeruhan
·         Parameter kimia: ph, DO, COD,BOD, logam berat, NO3, CL
·         Parameter biologi: angka kuman,  e coli

b.    Pencemaran udara
Limbah gas: SO2, NOX, CO, aldehid, metan, asap, jelaga, dll
4.   Pencemaran oleh kegiatan transportasi
a.   Pencemaran oleh suara/kebisingan
·         Merupakan gangguan bagi kegiatan yang butuh ketenangan
·         Secara fisiologis kebisingan menyebabkan gangguan pendengaran, menaikan denyut jantung dan tekanan darah dan emosi            
b.   Pencemaran oleh gas buang  kendaraan
·          Gas buang: CO, SO2, NOX, Pb, CHO
·         Dampak pada kesehatan                     manusia: mata pedih, iritasi hidung, gangguan pada paru-paru
  1. Dampak pada tanaman yang ada di dekat jalan raya: kandungan logam tinggi

Gambar 13: Grafik pergeseran mortalitas karena penyakit yang disebabkan Mikroorganisme dan yang disebabkan pencemaran lingkungan

             







Gambar 14:     Dengan adanya sistem kekebalan tubuh manusia dapat bertahan terhadap bermacam macam parasit, tetapi terhadap bahan beracun dan berbahaya manusia tidak tahan

 


Limbah akan berbahaya bagi kesehatan manusia, terutama limbah bahan

beracun dan berbahaya. Merupakan suatu pertanyaan bahwa manusia dapat bertahan terhadap bermacam macam parasit, tetapi terhadap bahan beracun dan berbahaya manusia tidak tahan. Ketahanan yang dimiliki oleh manusia tersebut disebabkan manusia dapat membentuk  sistem kekebalan terhadap penyakit yang disebabkan organisme. Dilain pihak terhadap bahan beracun dan berbahaya seperti pestisida (misalnya DDT) tubuh manusia tidak dapat membentuk sistem kekebalan. Hal ini dapat dilihat dari gambar 11, yang memperlihatkan semakin meningkatnya kematian yang disebabkan oleh kanker yang sebagian besar ditimbulkan oleh bahan beracun dan berbahaya. Pada gambar tersebut ditunjukan bahwa mortalitas yang disebabkan oleh tbc, tipus dan dipteri menurun tajam dari tahun ke tahun.
Memang ada perbedaan antara penyakit organismik (disebabkan organisme seperti virus, bakteri) dan penyakit lingkungan (disebabkan bahan beracun berbahaya). Perbedaan tersebut disebabkan oleh substansi penyusun penyebab penyakit dan kemampuan tubuh manusia menghadapinya. Organisme terdiri dari substansi organik seperti karbohidrat, lemak, protein, sedangkan bahan berbahaya dan beracun terdiri dari beberapa atom C saja.
Sistem kekebalan tubuh dapat  menyerang parasit, bakteri, versus yang terbentuk antara lain:
1. Ribuan asam amino
2. Atom C
Tubuh tidak berdaya terhadap zat kimia beracun (misal DDT) yang terdiri dari hanya 14 atom C, 9 atom H, 5 atom Cl.
         Molekul protein: terdiri dari ratusan asam amino
         Molekul karbohidrat: merupakan kombinasi banyak gula sederhana
         Molekul lemak: terdiri  ratusan asam lemak
Teori molekuler:
  1.   Parasit, bakteri, virus  terdiri dari  ratusan sampai ribuan atom C
  2.   Zat kimia DDT hanya terdiri: 14 atom C, 9 atom H, 5 atom Cl
Sehingga sistem kekebalan tubuh tidak dapat mendeteksinya
MANUSIA (Homo erectus)
Sejak dua juta tahun yang lalu telah  mengenal dan telah beradaptasi terhadap lingkungan organisme  parasit, bakteri, virus. Sementara manusia baru mengenal DDT sejak tahun 1940
Teori evolusi dan adaptasi
Waktu evolusi 2 juta tahun, tubuh manusia beradaptasi terhadap parasit, bakteri, virus yaitu dengan membentuk sistem kekebalan tubuh. Sedang waktu puluhan tahun belum cukup bagi tubuh manusia untuk membentuk sistem kekebalan terhadap zat-zat kimia.
Bahan Berbahaya Beracun (B3):
Semua bahan / senyawa baik padat,cair ataupun gas yang mempunyai potensi merusak terhadap kesehatan manusia serta lingkungan akibat sifat-sifatyang dimiliki
  1. Mudah meledak
  2. Mudah terbakar
  3. Bersifat reaktif
  4. Beracun
  5. Menyebabkan infeksi
  6. Bersifat korosif


  1. MASALAH LINGKUNGAN GLOBAL

Krisis ekologi: istilah yang sering digunakan untuk menyebut suatu masalah menyangkut gangguan ekosistem. Masalah lingkungan global saat ini ditandai oleh pencemaran yang terjadi hampir diseluruh dunia
Krisis ekologi terkait dengan masalah lingkungan global:
1.   Perubahan tingkat pertumbuhan penduduk dunia
Perubahan tingkat pertumbuhan penduduk seiring dengan perkembangan ekonomi. Jika penduduk            bertambah maka eksplorasi sumber daya meningkat. Pada akhir abad ke 20, penduduk bumi sudah bertambah lebih dari tiga kali lipat, dan gross world product  menjadi sekitar 20 kali. Konsumsi minyak bumi menjadi lebih dari 10 kali lipat, dan penggunaan energi lebih dari 15 kali penggunaan awal abad ini. Hal ini berdampak pada lingkungan hidup (ABC environment).
2.   Limbah bahan berbahaya beracun (B3)
Limbah bahan berbahaya beracun yang sangat ditakuti adalah limbah dari industri kimia, misalnya pestisida dan sampah radioaktif. Amerika serikat negara penghasil limbah B3 yang terbesar di dunia yaitu 264 juta ton setiap tahunnya. Limbah tersebut terdiri dari residu yang mengandung logam berat dan senyawa organik, misalnya  DDT yang dipakai untuk melindungi tanaman dan tumbuhan dari serangan hama. Pencemaran lingkungan yang terjadi lebih diperparah lagi dengan pemakaian DDT di usa dan kanada sangat berlebihan, sehingga membunuh burung dan ikan tidak hanya di usa bahkan sampai amerika selatan (Nebel, 1991). Amerika serikat butuh biaya 20-100 milyar dollar untuk membersihkan 200-10.000 tempat pembuangan limbah. Pencemaran lingkungan yang menjadi ciri masalah lingkungan di negara industri kini telah memasuki negara berkembang, hal ini disebabkan karena:
a.        Pertumbuhan yang sangat pesat  sekali di awal abad 20 sejalan dengan perkembangan ekonomi telah menimbulkan dampak lingkungan.
b.        Adanya gerakan ekologi dangkal,  negara maju mengekspor pencemaran ke negara berkembang.
Negara maju dengan dalih mengekspor teknologi canggih ke negara berkembang, membangun industri  yang menghasilkan limbah B3, antara lain CO, O3 dan SO2, yang menjadikan kawasan industri sebagai sumber pencemar.



3.   Pergeseran alokasi pemakaian sumber daya dan penyebaran pencemaran dari negara industri ke negara berkembang.
Berdirinya gerakan ekologi dangkal (shallow ecology movement) tahun 1980 an yang berpedoman:
a.        Pencemaran harus dikurangi dan  atau disingkirkan
b.        Pemakaian sumber daya harus                       dihemat demi kepentingan negara negara industri
Yaitu dengan cara:
·         Negara industri mengekspor teknologi ke negara berkembang dengan membangun industri yang menghasilkan limbah berbahaya.
·         Negara industri mengeksport pestisida yang sudah tidak boleh dipakai di negaranya seperti insektisida organochlorin (ddt, aldrin, dieldrin, heptachlor, endrin), insektisida organofosfat (diazinon, malathion).                    
4.    Menyebarnya dampak lokal menjadi global
a.   Meledaknya reaktor pusat listrik tenaga nuklir Chernobyl 29 april 1986, radiasi terdeteksi di swedia, denmark dan negara eropa lainnya, baru 12 jam kemudian pengumuman tv moskow menyikapi musibah ini
         Penyebab meledaknya reaktor Chernobyl adalah kelalaian manusia (human error)
         Pada saat pengujian kerja turbin turbin pabrik, dalam latihan menghadapi keadaan darurat (emergency), terlalu banyak sistem pengaman dimatikan. Hal ini menyebabkan aliran air pendingin menurun dengan cepat dan 200 ton uranium menjadi panas sampai 2800 derajat celcius, yang kemudian menimbulkan ledakan dasyat
         Pada saat itu, 1700 ton graphite pijar membumbung ke udara, uranium fuel meleleh sambil melepaskan isotop isotop dan jika ditinjau dari toksikologi radioaktivitas sangat tinggi tingkat racunnya
         Isotop tersebut terdorong ke atas oleh panas dan disirkulasikan ke seluruh penjuru
Akibat bencana Chernobyl:
    •  Korban meninggal kurang            lebih 2000 orang, penduduk sekitar terancam radiasi, sehingga terancam kanker  dan bayi cacat
    • Lahan pertanian seluas 150 km  terkontaminasi, tidak mungkin    di gunakan selama puluhan  tahun, kecuali jika topsoil dihilangkan
    • Penduduk sekitar area pabrik  terkena radiasi 20-100 rem, sehingga terancam kanker dan melahirkan bayi cacat
    • Angin saat itu bertiup ke arah barat laut wilayah pertanian dan peternakan, sehingga tanaman dan hewan hewan ternak di ukrania rusak
b.   Tragedi Bhopal India
Pabrik insektisida karbaril di Bophal bocor, mengeluarkan methyl isocyanate / mic (3 Desember 1984). Tengah malam memasuki dinihariawan kabut (smog) methyl isocyanate menutupi bumi setinggi 35 m. Pengobatan korban diragukan dan tidak memadai, sampai tahun 1985 tidak ada penyembuhan, dan penderita yang terkontaminasi mic meningkat (Miller, 1985). Ribuan hewan mati dan membusuk di jalan jalan. Menyebabkan 2500 orang meninggal, 200.000 orang sakit dan 17.000 orang menderita sakit paru paru permanen.
Penyebab bencana Bhopal:
·         Kepadatan penduduk di India, yang menyebabkan tempat tinggal terdesak ke buffer zone di sekitar pabrik. Disamping itu menyadari perlunya penggunaan pestisida untuk peningkatan produksi pangan, pabrik pestisida didirikan.
·         Union carbide  menimbun methyl isocyanate  dalam jumlah besar, sistem pendingin dan tanki pengontrol tidak bekerja, tidak mempunyai emergency plan, dansangat dekat dengan pemukiman
·         Tanggal 2 desember 1984             menjelang     tengah malam 450-900 liter air dipompakan ke tangki        methyl            isocyanate  untuk membuat           insektisida sevin.     Suhu dan             tekanan         dalam tanki   meningkat serta       mengakibatkan tanki           meledak dengan melepaskan           22.500 kg bahan berbahaya dan beracun  (B3) ke udara.
5.   Pencemaran tidak mengenal batas negara (pollution knows no national boundary)
a.   Hujan asam
b.   Lubang ozon
c.   Efek rumah kaca danpemanasan global
a.   Hujan asam
         Hujan dengan pH lebih kecil dari 5,6  
         Air hujan menjadi asam karena terkontaminasi oleh sulfur dioksida (SO2) dan oksida nitrogen (NOx)
         Sumber SO2 yang utama adalah industri dengan bahan bakar batubara, dan sumber nox yang terbesar adalah kendaraan bermotor
         Akibat hujan asam, dapat merugikan: ekosistem, danau, hutan, tanaman pertanian dan bangunan
Hujan asam dimulai prosesnya dengan terbentuknya smog
Smog
Merupakan kabut sangat beracun bagi manusia, hewan dan tumbuhan. Banyak terdapat pada daerah daerah industri. Terbentuknya smog menurut Haagen-Smith, sebagai berikut:

                                    Sinar Matahari (UV)

                        NO2                 NO + On                     Oksidan (O3)
O3 + SO2                          SO3, Asam
Hidrokarbon                    Aldehid, PAN,
Smog: SO3, Asam, Aldehid, PAN

Gambar 15: Proses pembentukan smog menurut  Haagen-Smith

b.   Lubang ozon
Disebabkan oleh senyawa kimia  freon / chlorofluorocarbon (CFC) yang merusak lapisanozon stratosfer. Lapisan ozon  yang merupakan pelindung bumi ada pada  ketinggian 15-35 km dari  permukaan bumi. Lapisan ozon menjadi penyaring sinar ultraviolet. Sinar ultraviolet jenis c (uv-c) sangat berbahaya bagi kehidupan, dan pada manusia dapat menimbulkan kanker kulit. Apabila lapisan ozon rusak oleh CFC maka sinar uv-c akan sampai ke bumi (Tandjung, 1993).
Peristiwa pembentukan lubang ozon:
Musim dingin di antartika ditandai daerah lapisan ozon yang me dibatasi pusaran angin(vortex)  terlihat keadaan udaranya jadi hening dan terisolasi dari daerah  sekitar disebut containment vessel yang merupakan daerah perusakan ozon utama karena:
1.   CFC nya berkadar rendah, sedangkan CLO (Khlor Monoksida)  tinggi
CLO: terbentuk dari CL hasil perombakan CFC
2.   Korelasi negatif antara kadar ozon  dan CLO
Reaksi perusakan ozon oleh CFC   (rantai reaksi ClOx):
      CCL2F2          +          UV                  CL + CCLF2
      CL       + O3                CLO + O2
      CL       + O                              CL + O2
Efek umah kaca dan pemanasan global:
Ø  Efek rumah kaca terjadi karena  semakin banyak gas CO2 di angkasa
Ø  Sinar matahari yang sampai ke bumi dipantulkan kembali ke permukaan bumi, sehingga bumi semakin panas
Ø  Dikhawatirkan es dan salju di kutub dapat mencair pada saat kenaikan suhu bumi dan akibat terjadi banjir planet
Ø  Dalam 100 tahun kadar gas CO2 meningkat dari 29000 ppb menjadi 350.000 ppb (Tandjung, 1999)
Ø  Ada pendapat bahwa sumbangan gas CO2 terhadap efek rumah kaca sekitar 50 %, dan penyebab lain adalah gas methana (15 %), cfc (13%)NOX (9%) dan gas stratosfer (13%)
RANGKUMAN

         Pencemaran lingkungan: masuknya / dimasukannya makhluk hidup,  zat, energidan atau komponen lain kedalam lingkungandan atau berubahnya tatanan lingkunganoleh kegiatan manusia atau proses alam, sehingga kualitas lingkungan turun, sampaike tingkat tertentu yang  menyebabkanlingkungan menjadi kurang / tidak dapatberfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya (UUPLH no.23 tahun 1997)
         Merupakan suatu pertanyaan bahwa manusia dapat bertahan terhadap bermacam macam parasit, tetapi terhadap bahan beracun dan berbahaya manusia tidak tahanketahanan yang dimiliki oleh manusia tersebut disebabkan manusia dapat membentuk  sistem kekebalan terhadap penyakit yang disebabkan organisme
         Masalah lingkungan global mencakup: pertama, perubahan tingkat pertumbuhan penduduk; kedua, limbah bahan berbahaya beracun (b3); ketiga, pergeseran alokasi pemakaian sumber daya dan penyebaran pencemaran dari negara industri ke negara berkembang; keempat, menyebarnya dampak lokal menjadi global




SOAL SOAL

  1. Terangkan pedoman yang digunakan sebagai dasar berdirinya gerakan ekologi dangkal (shallow ecology movement)?
Mengapa gerakan ekologi dangkal  yang dilakukan negara-negara industri dapat merugikan negara-negara berkembang seperti Indonesia?
  1. Jelaskan apa yang dimaksud smog?
Bagaimana proses terbentuknya smog?
Apa dampak yang ditimbulkan adanya smog  terhadap lingkungan hidup?
  1. Bagaimana hubungan antara pencemaran lingkungan dan kesehatan lingkungan sekarang ini dan dimasa yang akan datang?
  2. Mengapa pencemaran dikatakan tidak mengenal batas negara (pollution knows no national boundary)? Jelaskan disertai contoh-contoh  yang ada.
  3. Mengapa negara-negara industri  pada tahun 1980-an melakukan gerakan ekologi dangkal (swallow ecology movement)?
Bagaimana akibat dari gerakan tersebut terhadap negara-negara berkembang?


IV. DAMPAK KERUSAKAN LINGKUNGAN

A.  Pengantar
Setelah mempelajari materi pada sub pokok bahasan iv, mahasiswa diharapkan menyajikan kajian secara tertulis dan lisantentang dampak kerusakan lingkungan termasuk sifat dampak dan tolok ukur dampak lingkungan.
Dalam sub pokok bahasan III menyajikan:
1.    Dampak lingkungan
2.    Sifat dampak
3.    Tolok ukur dampak
B.  Kompetensi:
Mampu menyajikan kajian tentang dampak kerusakan lingkungan termasuk tolok ukur dampak lingkungan








1.        DAMPAK LINGKUNGAN

Dalam konteks analisis dampak  lingkungan, penelitian dampak  dilakukan karena adanya rencana aktivitas manusia dalam pembangunan. Dampak pembangunan menjadi masalah karena perubahan yang disebabkan  pembangunan selalu lebih luas dari pada yang menjadi sasaran  pembungunan yang direncanakan. Sebagai contoh jika petani menyemprot sawahnya dengan pestisida untuk memberantas hama wereng, yang mati bukan hanya wereng saja melainkan juga lebah madu yang terbang di udara, ikan dan katak yang ada di sawah. Matinya lebah, ikan dan katak secara umum disebut efek samping atau dampak. Secara umum dalam analisis dampak lingkungnan , dampak pembangunan diartikan sebagai perubahan yang tidak direncanakan yang diakibatkan oleh aktivitas pembangunan.
Dampak bersifat positif dan negative akan tetapi di negara maju banyak orang hanya memperhatikan dampak negatif daripada dampak negatif, bahkan umumnya dampak positif diabaikan. Di Indonesia pun dampak sering mempunyai konotasi negatif, sehingga dalam banyak buku terdapat bagian penanggulangan dampak yang mengandung arti dampak negarif, sebaliknya tidak menguraikan tentang usaha memperbesar dampak positif. Tekanan yang berlebih pada dampak negatif disebabkan oleh pengaruh gerakan lingkungan di negara maju yang merupakan reaksi terhadap kerusakan lingkungan oleh pembangunan. Di dalam analisis dampak lingkungan memang sebaiknya arti dampak diberi batasan: perbedaan antara kondisi lingkungan yang diperkiraan akan ada tanpa adanya pembangunan dan yang diperkirakan akan ada dengan adanya pembangunan. Dengan batasan tersebut maka dampak yang disebabkan oleh aktivitas lain di luar pembangunan, baik alamiah maupun oleh manusia, tidak ikut diperhitungkan dalam perkiraan dampak. Dampak meliputi baik dampak biofisik maupun dampak sosial-ekonomi-budaya dan kesehatan.
Dampak lingkungan menurut UULH no. 23 tahu 1997 : perubahan lingkunga oleh suatu kegiatan.
Kegiatan:
1.   Bersifat alamiah adalah kegiatan yang dilakukan  oleh alam bersifat:
a.    Fisik : gempa bumi, banjir dan lain lain
b.    Kimia: gas-gas kimia yang dikeluarkan oleh alam seperti gas co yang ada di dieng
c.    Biologi: pertumbuhan tanaman enceng gondok di waduk
2.   Kegiatan yang dilakukan manusia misalnya:
a.   Pembangunan dibidang pariwisata
Dampak positif:
         Tersedianya lapangan pekerjaan
         Naiknya pendapatan negara  


Dampak negatif:
         Berubahnya nilai budaya masyarakat
b.   Pembangunan dibidang industri
Dampak positif:
         Tersedianya lapangan kerja
         Naiknya pendapatan negara
         Dan lain lain
Dampak negatif:
         Pencemaran lingkungan (udara, air dan kebisingan        
Dampak lingkungan dari suatu kegiatan, baik dampak negatif maupun dampak positif harus sudah dapat diperkirakan sebelum kegiatan itu dimulai yaitu dengan melakukan analisis dampak lingkungan. Jadi analisis dampak lingkungan adalah merupakan alat untuk merencanakan tindakan preventif terhadap kerusakan lingkungan yang mungkin  akan ditimbulkan oleh suatu aktivitas pembangunan yang direncanakan. Contoh dampak lingkungan:






Pertumbuhan penduduk

Kenaikan produksi limbah


Eutrofikasi

Pertumbuhan masal mikrofita dan makrofita




Penurunan               kenaikan evapotranspirasi             penurunan
Produksi ikan                                                                        pariwisata




                        penurunan kapasitas                                  penurunan                            pembangkit listrik                                         kapasitas irigasi

                                                                                               
                        penurunan pemasokan                  penurunan produksi
                        listrik                                                   pertanian      


Gambar 16: Dampak lingkungan  akibat pertumbuhan penduduk






Tolok ukur dampak lingkungan:
1.   Abiotic
                        a. Terhadap air
·         Fisik: kekeruhan, temperatur, Daya Hantar Listrik (DHl), Total Suspended Solid (TDS), Suspended Solid (SS)
·         Kimia: pH, DO (Disolved Oxygen), COD (Chemical Oxygen Demand), BOD (Biological Oxygen Demand), logam, dll
·         Biologi: angka kuman, bakteri coli                       
b. Terhadap lahan
      • Kotor
      • Bau
      • Berwarna kehitam hitaman
      • Tidak subur
                          c. Terhadap udara
         Udara kotor dan gelap adanya polutan seperti CO2, SO2, NH3, H2S, dan lain lain
         Kebisingan
2.   Biotic
a.   Species: jenis suatu organisme  (tumbuhan, hewan, mikroorganisme)
populasi:  kumpulan organisme sejenis
b.   Habitat: tempat hidup organisme
Komunitas: kumpulan populasi          yang menempati habitat tertentu
         Komunitas ikan: air
         Komunitas padi: sawah                 
c.    Ekosistem: gabungan beberapa komunitas
·         Ekosistem mangrove
·         Ekosistem hutan tropis
3.    Cultural   
a.    Kepadatan penduduk
b.    Kesehatan masyarakat
c.    Interaksi sosial
d.    Lapangan pekerjaan
e.    Kualitas lingkungan     
Yang dimaksud dampak penting adalah perubahan yang sangat mendasar yang diakibatkan oleh suatu kegiatan. Untuk memperkirakan dampak  penting, maka diperlukan pedoman ukuran dampak penting yang meliputi:
  1. Jumlah manusia yang terkena dampak
  1. Luas wilayah persebaran dampak
  1. Lama dampak dan intensitas dampak berlangsung
  1. Banyaknya komponen lingkungan lainnya yang akan terkena dampak
  1. Sifat kumulatif dampak
  1. Berbalik (reversible) atau tidak berbaliknya (irreversible) dampak

RANGKUMAN

         Dampak lingkungan menurut uuplh no. 23 tahu 1997 : perubahan lingkunga oleh suatu kegiatan, baik kegiatan yang bersifat alamiah maupun kegiatan yang dilakukan manusia. Dampak lingkungan bisa positif maupun negatif
         Batasan dampak lingkungan di dalam analisis dampak lingkungan : perbedaan antara kondisi lingkungan yang diperkiraan akan ada tanpa adanya pembangunan dan yang diperkirakan akan ada dengan adanya pembangunan. Dengan batasan tersebut maka dampak yang disebabkan oleh aktivitas lain di luar pembangunan, baik alamiah maupun oleh manusia, tidak ikut diperhitungkan dalam perkiraan dampak
         Tolok ukur dampak lingkungan: abiotic, biotic dan cultural
         Dampak lingkungan bersifat berkesinambungan artinya dari satu dampak akan menyebabkan dampak lain kalau tidak segera ditanggulangi
SOAL SOAL
1.    Terangkan  mengapa pengubahan bentuk lahan dan bentang alam seperti pembuatan bendungan dan pembukaan hutan menurut PP. No.27 th 1999 tentang analisis dampak lingkungan, merupakan kegiatan yang dapat menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup?
2.    Apakah yang dimaksud dampak lingkungan?
      Jenis kegiatan seperti apa yang menyebabkan dampak lingkungan?
3.    Jelaskan bagaimana prosedur pelaksanaan analisis dampak lingkungan suatu rencana kegiatan sampai keluar surat keputusan kelayakan lingkungan hidup.
4.    Jelaskan tentang masalah lingkungan hidup yang ditimbulkan akibat perubahan tingkat pertumbuhan penduduk.
5.    Jelaskan tolok ukur dampak lingkungan pada komponen:
a.    Abiotic
b.    Biotic
c.    Cultural