Jumat, 22 Juli 2011

ikan

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia memiliki wilayah perairan yang luas dibandingkan dengan daratan. Luas permukaan bumi yang dapat didiami oleh makhluk hidup seluruhnya mencapai 510 juta kilometer persegi yang terdiri dari 70% lautan dan 30% daratan (Nontji, 2002). Salah satunya adalah perairan air tawar, perairan ini banyak dimanfaatkan oleh masyarakat selain untuk memenuhi kebutuhan air minum juga dimanfaatkan masyarakat sebagai areal kolam ikan.
Kebutuhan masyarakat akan protein hewani akhir–akhir ini semakin meningkat, hal ini sejalan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan manfaat daging sebagai bahan makanan, sehingga tingkat konsumsi masyarakat terhadap ikan juga meningkat. Ikan merupakan salah satu sumber protein hewani yang harganya relatif murah dan mudah didapatkan serta mempunyai nilai gizi yang tinggi (Suyanto, 1990).
Ikan gurami (Osphronemus gouramy, Lac.) merupakan ikan asli perairan Indonesia yang sudah menyebar ke seluruh perairan Asia Tenggara dan Cina. Masyarakat indonesia sudah lama mengenal ikan gurami, ikan gurami memiliki rasa daging yang gurih dan lezat. Gurami termasuk salah satu dari 12 komoditas untuk pemenuhan gizi masyarakat. Namun pertumbuhan Ikan gurami (Osphronemus gouramy Lac.) lambat dibandingkan dengan ikan budi daya lainnya, karena untuk mencapai ukuran konsumsi dengan berat badan minimal 500 gram dari benih berukuran 1 gram memerlukan waktu pemeliharaan lebih dari 1 tahun. Pertumbuhan lambat ini menyebabkan orang beranggapan bahwa ikan ini tidak dapat dipelihara secara intensif. Salah satu cara untuk memecahkan masalah tersebut adalah dengan pemberian pakan berkualitas dalam jumlah yang cukup (Ricky, 2008).
Pada umumnya ikan mengalami pertumbuhan secara terus – menerus sepanjang hidupnya. Hal ini menyebabkan pertumbuhan merupakan salah satu aspek penting yang dipelajari dalam dunia perikanan, dikarenakan petumbuhan yang menjadi indikator bagi kesehatan individu dan populasi yang baik bagi ikan. Dalam istilah sederhana pertumbuhan dirumuskan sebagai pertambahan ukuran panjang atau berat dalam suatu waktu. Apabila ditinjau lebih lanjut maka sebenarnya pertumbuhan itu merupakan suatu proses biologi dimana banyak faktor yang mempengaruhi diantaranya faktor dari dalam tubuh ikan maupun faktor dari luar (Reinthal, 2005).
Pakan merupakan salah satu faktor penunjang selama perkembangan budi daya ikan gurami (Osphronemus gouramy Lac.) secara intensif, karena pakan merupakan sumber energi dalam pertumbuhan. Untuk menghendaki pertumbuhan ikan gurami yang baik maka harus diberikan sejumlah pakan untuk pemeliharaan tubuhnya. Dalam mengantisipasi kendala tersebut, utamanya masalah pakan perlu diteliti potensi pakan alternatif yang bersumber dari hasil pertanian yang memiliki kandungan nutrisi cukup, untuk dijadikan sebagai pakan ikan gurami (Sitanggang, 1994).
Berdasarkan hal diatas maka perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh jenis pakan terhadap pertumbuhan ikan gurami (osphronemus gouramy, lac.) dalam habitat buatan.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pengaruh pemberian jenis pakan berbeda (dedak, ampas tahu, tepung kedelai dan pelet) terhadap pertumbuhan ikan gurami (Osphronemus gouramy, Lac.) dalam habitat buatan?
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian jenis pakan berbeda (dedak, ampas tahu, tepung kedelai dan pelet) terhadap pertumbuhan ikan gurami (Osphronemus gouramy, Lac.) dalam habitat buatan.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah :
1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada petani ikan, khususnya petani ikan gurami (Osphronemus gouramy, Lac.) tentang pemanfaatan dedak, ampas tahu dan tepung kedelai sebagai pakan ikan gurami (Osphronemus gouramy, Lac.).
2. Sebagai latihan awal bagi peneliti dalam membudidayakan ikan khususnya ikan gurami (Osphronemus gouramy, Lac.).
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Ikan Gurami (Osphronemus gouramy, Lac.)
1. Klasifikasi dan Morfologi
Klasifikasi ikan gurami menurut Hattu, (2009) sebagai berikut:
Phylum : Chordata
Class : Pisces
Sub class : Teleostei
Ordo : Labyrinthici
Sub ordo : Anabantoidae
Family : Anabantidae
Genus : Osphronemus
Species : Osphronemus gouramy, Lac.
Ciri khusus ikan gurami (Osphronemus gouramy, Lac.) dapat dilihat dari beberapa bagian tubuhnya tinggi dan pipih ke samping. Tinggi badan 2,0 – 2,1 kali panjang standar. Mulut kecil, miring, dan dapat disembulkan. Gurami memiliki garis lateral (garis gurat sisi) tunggal dan tidak terputus. Sisik stenoid dan berukuran besar. Gurami mempunyai gigi pada rahang bawah (Saanin, 1984).
Ujung sirip punggung dan sirip dubur dapat mencapai pangkal ekor, ujung pangkal ekor berbentuk busur. Pada dasar sirip dada gurami betina terdapat tanda berupa bundaran hitam. Bagian kepala gurami muda berbentuk lancip dan akan menjadi tumpul bila sudah besar(Robert, 1992).
Badan gurami muda pada umumnya berwarna biru kehitaman dan bagian perut berwarna putih atau kekuningan. Warna tersebut akan berubah menjelang dewasa, yaitu pada bagian punggung berwarna kecoklatan dan bagian perut berwarna keperakan atau kekuningan. Pada gurami muda terdapat garis tegak berwarna hitam berjumlah 7–9 buah, dan garis itu akan menghilang setelah dewasa (Jangkaru, 1999).











Gambar 1 : Ikan Gurami (Osphronemus gouramy, Lac.) (Jangkaru, 1999).




2. Habitat dan Penyebarannya
Habitat atau lingkungan hidup ikan gurami yaitu di perairan tawar yang tergenang seperti rawa, danau, telaga serta kolam. Tetapi ada juga jenis gurami yang hidupnya di perairan payau. Ikan gurami dapat bertelur dan berkembang biak di air yang keruh sekalipun, namun sebenarnya gurami lebih menyukai perairan yang jernih dan tenang. Ikan ini tidak dapat hidup pada perairan yang ditumbuhi tanaman air seperti eceng gondok karena gurami harus mengambil langsung oksigen dari udara bebas karena organ penyimpan udara (labirint) tidak berfungsi jika gurami tidak muncul ke permukaan air. Pada kolam yang ditutupi tanaman air yang mengapung, gurami akan lebih sering bergerak naik turun untuk mengambil udara dari pada bergerak horizontal.
Gurami umumnya hidup dan banyak dipelihara diperairan tawar, terutama pada perairan yang tenang dan dalam. Gurami dapat tumbuh dan berkembang pada perairan tropis dan subtropis. Ikan ini mempunyai daya adaptasi tinggi terhadap lingkungan, tetapi lebih cocok hidup pada ketinggian maksimal 800 m di atas permukaan laut. Selanjutnya keduanya mengatakan, bahwa suhu ideal untuk pertumbuhan gurami antara 24OC-28OC, derajat keasaman (pH) antara 6-8, kandungan oksigen terlarut 3-5 ppm, dan air yang tidak terlalu keruh (Sari, 2009).
3. Kebiasaan Makan Ikan Gurami
Kebiasaan makanan, ikan dibagi dalam tiga golongan, yaitu ikan pemakan tumbuhan (Herbivora), ikan pemakan hewan (Carnivora) dan ikan pemakan segala (Omnivora). Ikan gurami termasuk herbivora atau ikan yang sepanjang hidupnya pemakan tumbuhan.
Gurami adalah salah satu jenis ikan dimana pada saat muda karnivora, sedangkan setelah dewasa herbivora. Sifat ini terlihat dari anatominya mempunyai usus panjang dari panjang tubuhnya. Kebiasaan makan berubah sesuai dengan keadaan lingkungan hidupnya dan jumlah pakan yang diperlukan tergantung dari umur dan ukurannya. Karena jenis makanan seperti itu yang menjadi penghambat pertumbuhan gurami (Susanto, 2001).
4. Pakan Ikan Gurami
Gurami memakan segala macam zooplankton, fitoplanktoon, serangga, dan daun tumbuhan. Pakan sebagai sumber nutrisi maupun energi merupakan bahan yang sangat menentukan dalam pencapaian kemampuan hidup suatu organisme. Ketersediaan sumber pakan disuatu lingkungan sangat beragam, baik secara kuantitas maupun kualitas. Keragaman sumber pakan, baik yang berasal dari hewani maupun nabati, dapat terjadi karena adanya perubahan lingkungan (Ade, 2009).
Mengingat banyaknya keragaman tersebut, organisme seringkali dihadapkan pada suatu pilihan untuk mengkonsumsi sumber pakan tertentu yang bukan merupakan makanan utamanya. Dalam menghadapi perubahan kondisi lingkungan demikian, diperlukan kemampuan adaptasi fisiologis secara optimal untuk mempertahankan atau mencapai kemampuan hidup (Petrus, 1999).
Adapun jenis pakan ikan gurami terdiri dari pakan alami (organik) berupa daun – daunan maupun pakan buatan (anorganik) dalam bentuk berupa pelet. Pakan alami yang digunakan antara lain daun sente (Alocasia macrorrhiza), pepaya (C arica papaya), keladi (Colocasia esculenta), ketela pohon (Manihot utililissima ), genjer (Limnocharis flava), kimpul (Xanthosoma violaceum), kangkung (Ipomea reptans), ubi jalar (Ipomea batatas), ketimun (Cucumis sativus), labu (Curcubita moshata), dadap (Erythrina).
Budidaya secara intensif biasanya menggunakan pakan-pakan tambahan yang memiliki kandungan nutrisi cukup untuk di gunakan sebagai pakan dalam budidaya ikan seperti pada tabel berikut:
Tabel 1. Kadar Protein Beberapa Jenis Pakan dalam Budidaya Ikan.
No Jenis Bahan Makanan Protein Lemak Serat
1 Ampas tahu 26,73 18,43 7,92
2 Dedak halus 13,3 2,4 9,4
3 Tepung kedelai 46,8 5,31 4,35
4 Pelet 30 4 4
Sumber : Budidaya Gurami, (Sitanggang, 1994)
5. Pertumbuhan Ikan Gurami
Secara umum ikan mengalami pertumbuhan sepanjang hidupnya. Hal ini yang menyebabkan pertumbuhan merupakan salah satu aspek penting dipelajari dalam dunia perikanan, karena pertumbuhan yang menjadi indikator bagi kesehatan individu dan populasi yang baik bagi ikan. Dalam istilah sederhana pertumbuhan dirumuskan sebagai pertambahan ukuran panjang atau berat dalam suatu waktu, apabila ditinjau lebih lanjut maka sebenarnya pertumbuhan itu merupakan suatu proses biologi dimana banyak faktor yang mempengaruhi diantaranya faktor dari dalam tubuh ikan maupun faktor dari luar (Reinthal, 2005).
Lovell (1980) dalam Mokoginto (1995) menyatakan bahwa kebutuhan energi untuk hidup pokok dipenuhi terlebih dahulu sebelum energi pakan dapat disediakan untuk pertumbuhan. Jika kandungan energi pakan rendah maka sebagian besar protein pakan akan dikatabolisme untuk memenuhi kebutuhan energi ikan. Sebaliknya jika energi pakan terlalu tinggi, maka ikan akan makan sejumlah kecil pakan tersebut, hal ini akan membatasi banyaknya protein pakan yang dimakan, sehingga akan membatasi pertumbuhan ikan.
Secara umum pertumbuhan ikan gurami di habitat alami mencapai panjang total sekitar 15 cm pada umur 1 tahun, 25 cm umur 2 tahun, dan 30 cm pada umur 3 tahun. Sebagian besar ikan mempunyai kapasitas meneruskan pertumbuhan selama hidupnya bila kondisi hidup memungkinkan. Pertumbuhan ikan akan cepat pada umur 3-5 tahun. Sedangkan diumur tua lebih banyak mempergunakan energi dan zat hara untuk pemeliharaan tubuhnya. Pertumbuhan ikan mengalami perlambatan selama pematangan kelamin karena sebagian besar energi dan zat hara digunakan untuk perkembangan kelamin. Selain itu selama membuat sarang dan menjaga anaknya pertumbuhan terhambat karena saat itu gurami makan sedikit atau tidak makan sama sekali (Jangkaru, 1999).


Pertambahan umur akan diikuti oleh pertumbuhan panjang dan berat badan yang dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2: Pertumbuhan Gurami Seiring Waktu.

No Umur (bulan) Panjang (cm) Berat / individu (gram)
1. 3 2 – 3 0,003
2. 6 5 – 8 0,01
3. 10 8 – 11 0.8
4. 18 17 – 22 0,1
5. 24 25 0,3
6. 30 30 0,5
7. 36 32 – 35 0,7
8. 48 23 – 40 1000 – 1500
9. 60 40 – 45 1500 – 2000
Sumber : Budidaya Gurami, (Sitanggang, 1994)

B. Kualitas Air
Air merupakan faktor penting dalam pemeliharaan ikan yaitu sebagai media hidup. Kualitas air dalam lingkungan budidaya sangat berpengaruh bagi kelangsungan hidup maupun produksi ikan. Oleh karena itu diperlukan sifat fisika yang dapat mendukung pertumbuhan ikan. Sifat fisika tersebut antara lain suhu, oksigen terlarut, dan pH (Ruspitawati, 1996).
1. Suhu
Hardjojo dan Djokosetiyanto (2005) menyatakan bahwa suhu air normal adalah suhu air yang memungkinkan makhluk hidup dapat melakukan metabolisme dan berkembang biak. Suhu air adalah satu sifat fisik yang dapat mempengaruhi nafsu makan pertumbuhan ikan dan proses metabolisme pada kelangsungan hidup ikan. Jika suhu semakin tinggi disuatu perairan maka oksigen terlarut dalam air semakin rendah.
Toleransi ikan terhadap suhu sangat bervariasi tergantung jenis ikannya. Perubahan suhu secara tiba–tiba dapat menyebabkan ikan stress dan menimbulkan kematian. Gurami tumbuh baik pada suhu antara 25-28 oC dan pada suhu kurang dari 15 oC, ikan tidak dapat berkembang biak tetapi berkembang biak secara optimal diperairan dengan ketinggian 800 meter di atas permukaan laut (Arie, 2001).
2. Oksigen terlarut
Proses pernafasan gurami, dibutuhkan oksigen dan dihasilkan karbon dioksida. Kebutuhan oksigen didapat dari oksigen terlarut yang merupakan hasil fotosintesis tumbuhan air (fitoplankton) dengan bantuan sinar matahari. Di samping itu, kebutuhan oksigen pun berasal dari udara luar melalui proses difusi pada permukaan air. Gurami termasuk salah satu jenis ikan yang mampu bertahan terhadap kekurangan oksigen karena mampu mengambil langsung oksigen dari udara bebas. Kandungan oksigen yang baik pada budi daya gurami secara intensif minimum 4 mg/liter air. Sementara kandungan karbon dioksida sebaiknya kurang dari 5 mg/liter air (Sunarya, 2007).
Alat yang digunakan untuk mengukur kandungan oksigen dan karbon dioksida yang terlarut dalam air adalah DO meter. Kadar oksigen terlarut dapat ditingkatkan dengan cara menjaga aliran air agar tetap lancar dan membiarkan permukaan kolam dalam kondisi terbuka (Sunarya, 2007).




3. pH air
pH merupakan suatu pernyataan dari konsentrasi ion hidrogen (H¬+) di dalam air, besarannya dinyatakan dalam minus logaritma dari konsentrasi ion H. Besaran pH berkisar antara 0-14, nilai pH < 7 menunjukkan lingkungan yang masam sedangkan nilai pH > 7 menunjukkan lingkungan yang basa, untuk pH =7 disebut sebagai netral (Djokosetiyanto, 2005).
Toleransi untuk kehidupan akuatik terhadap pH bergantung kepada banyak faktor meliputi suhu, konsentrasi oksigen terlarut, adanya variasi bermacam-macam anion dan kation, jenis dan daur hidup biota. Perairan basa (7 – 9) merupakan perairan yang produktif dan berperan mendorong proses perubahan bahan organik dalam air menjadi mineral-mineral yang dapat diasimilasi oleh fotoplankton (Pescod, 1973).
pH air yang tidak optimal berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangbiakan ikan, menyebabkan tidak efektifnya pemupukan air dikolam dan meningkatkan daya racun hasil metabolisme seperti NH3 dan H2S. pH air berfluktuasi mengikuti kadar CO2 terlarut dan memiliki pola hubungan terbalik, semakin tinggi kandungan CO2 perairan, maka pH akan menurun dan demikian pula sebaliknya. Fluktuasi ini akan berkurang apabila air mengandung garam CaCO3 (Cholik et al, 2005).




C. Hipotesis
1. Hipotesis kerja :
Ada perbedaan rata-rata pertumbuhan ikan gurami pengaruh pemberian pakan (dedak halus, tepung kedelai, ampas tahu dan pellet) yang diberikan pada ikan gurami.
2. Hipotesis statistik
a. Tes hipotesis
H0 : µj = 0 (Tidak ada pengaruh pemberian jenis pakan berbeda (ampas tahu, dedak halus, tepung kedelai, dan pellet) terhadap pertumbuhan ikan gurami (Osphronemus gouramy, Lac.).
H1 : µj = 0 (Ada pengaruh pemberian jenis pakan berbeda (ampas tahu, dedak halus, tepung kedelai, dan pellet) terhadap pertumbuhan ikan gurami (Osphronemus gouramy, Lac.).
b. Kriteria pengambilan keputusan
Jika F hitung > Ftabel, maka H0 ditolak dan H1 diterima, berarti ada pengaruh pemberian jenis pakan berbeda (minimal salah satu) terhadap pertumbuhan ikan gurami (Osphronemus gouramy, Lac.).
Jika F hitung

III. METODE PENELITIAN
A. Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan pada Januari sampai Februari 2011, bertempat di Jl. Jendral A.H. Nasution Lr. Maleo No.9 Kecamatan Kambu Kota Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara dan laboratorium Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu pengetahuan Alam Universitas Haluoleo.
B. Alat dan Bahan
1. Alat
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 3 berikut :
Tabel 3. Alat yang digunakan serta fungsinya
No Alat Satuan Fungsi
1 Aerator - Untuk suplai oksigen
2 Akuarium - Untuk tempat hidup obyek penelitian
3 Selang kecil - Untuk menyimpan air
4 Baskom - Wadah mencampur makanan ikan
5 Timbangan Analitik g Untuk mengukur bobot tubuh ikan
6 Bak - Untuk kolam adaptasi
7 Thermometer C Untuk mengukur suhu air
8 Ph Meter - Untuk mengukur pH
9 DO meter ppm Untuk mengukur oksigen terlarut
10 Ayakan - Untuk mengayak pakan







2. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 4 berikut :
Tabel 4. Bahan yang digunakan serta fungsinya
No. Bahan Fungsi
1. Ikan gurami (Osphronemus gouramy Lac.) Sebagai hewan uji
2. Air tawar Sebagai media hidup
3. Dedak Sebagai pakan uji
4 Ampas tahu Sebagai pakan uji
5 Tepung kedelai Sebagai pakan uji
6. Pelet Sebagai pakan kontrol

C. Prosedur Penelitian
1. Persiapan wadah penelitian
Wadah yang digunakan yaitu akuarium berukuran 80cm x 40cm x 50cm , sebanyak 12 buah dan setiap akuarium diisi air setinggi 40 cm.
2. Pengadaan hewan uji
Hewan uji yang dibutuhkan akuarium dalam penelitian ini adalah ikan gurami (Osphronemus gouramy Lac.) yang berukuran antara 8-10 cm dan berumur 3 bulan sebanyak 72 ekor. Benih ikan ini diperoleh dari petani ikan di Desa Margacinta Kecamatan Moramo Kabupaten Konawe Selatan.
3. Persiapan pakan uji
Pakan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah dedak, tepung kedelai, ampas tahu dan pelet sebagai pakan kontrol. Dedak dan tepung kedelai yang diberikan diolah terlebih dahulu sedangkan ampas tahu tidak perlu diolah, hanya diberikan langsung. Cara mengelolanya adalah sebagai berikut :
a. Dedak yang digunakan diayak terlebih dahulu, setelah itu dedak dicampur dengan air secukupnya sampai basah dan bisa dikepal, kemudian diberikan pada ikan gurami dengan cara disebar ke tengah akuarium.
b. Ampas tahu yang diperoleh dari industri pembuatan tahu, kemudian diberikan pada ikan gurami dengan cara disebar ke tengah akuarium.
c. Tepung kedelai yang akan digunakan diayak setelah itu diberi air secukupnya sampai basah dan bisa dikepal, kemudian diberikan pada ikan gurami dengan cara disebar ke tengah akuarium.
4. Pemeliharaan
a. Aklimasi ikan
Aklimasi ikan terhadap lingkungan dilakukan selama tiga hari untuk mengurangi tingkat kematian dan stres benih ikan gurami, pada kolam adaptasi dengan ukuran 200 cm x 100 cm x 70 cm (panjang, lebar tinggi). Setelah adaptasi lingkungan dan adaptasi pakan selama tujuh hari, sehingga benih ikan gurami menyukai pakan tersebut kemudian dilakukan penimbangan bobot tubuh awal dan untuk mengetahui jumlah pakan yang akan diberikan setiap hari.
b. Penebaran dan lama pengamatan
Padat penebaran hewan uji dalam penelitian ini adalah 6 ekor/unit percobaan. Hal ini sesuai dengan pernyataan (Bachtiar, 2006) bahwa padat tebar dalam kolam pembesaran dengan ukuran benih 10 – 12 cm sebanyak 28 ekor/m3. Penelitian ini akan dilaksanakan selama 7 minggu dengan dilakukan pengukuran bobot sampel setiap minggu sekali.
c. Pemberian pakan
Banyak pakan yang diberikan setiap harinya yaitu 10 % dari bobot total tubuh ikan per minggu, perlu dilakukan penimbangan contoh berat badan ikan per minggu untuk dapat menentukan jumlah pakan yang tepat bagi ikan gurami dengan frekuensi pemberian pakan dua kali sehari yaitu pukul 08.00 dan 16.00 Wita. Pakan yang diberikan pada setiap unit percobaan dengan cara menyebar pakan secara merata ke tengah unit percobaan. Sebelum pemberian pakan dilakukan, terlebih dahulu dilakukan penyaringan kotoran dan penambahan air seperti semula dan setiap tujuh hari sekali dilakukan pergantian air sebanyak 50-60% dari volume air aquarium. Untuk mengetahui pertumbuhan ikan dilakukan penimbangan bobot tubuh ikan setiap tujuh hari.
D. Rancangan Penelitian
Rancangan Penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan, 1 kontrol dan 3 ulangan sehingga terdapat 12 satuan percobaan. Ketiga perlakuan dan kontrol tersebut adalah:
Perlakuan A : Pemberian dedak
Perlakuan B : Pemberian tepung kedelai
Perlakuan C : Pemberian ampas tahu
Kontrol D : Pelet
Adapun penelitian dilakukan secara acak. Tata letak wadah penelitian diperlihatkan pada Gambar 1.




Gambar 1. Tata Letak Wadah Penelitian
E. Variabel yang Diamati
Variabel yang akan diamati dalam penelitian ini adalah :
1. Pertumbuhan mutlak
Untuk mengetahui pertumbuhan mutlak ikan gurami dilakukan pengukuran bobot ikan pada awal dan akhir penelitian dengan menggunakan rumus Effendie (1979) yaitu :
H = Wt – Wo
Dimana : H = Pertumbuhan Mutlak (g)
Wt = Bobot ikan uji pada akhir penelitian (g)
Wo = Bobot ikan uji pada awal penelitian (g)
2. Laju pertumbuhan spesifik
Laju pertumbuhan spesifik diukur setiap minggu pertama hingga minggu akhir penelitian. Laju pertumbuhan ini dihitung dengan menggunakan rumus Specific Growth Rate (SGR) menurut (Huisman, 1976):
LPS = X 100%

Dimana : LPS = Laju Pertumbuhan mingguan (%)
Wt = Bobot rata-rata ikan pada waktu t penelitian (gram)
Wo = Bobot rata-rata ikan pada waktu awal penelitian (gram)
t = Waktu penimbangan (hari)

3. Nilai konversi pakan
Untuk mengetahui jumlah pakan yang dikonsumsi sehingga memberikan pertambahan berat bobot tubuh hewan uji selama penelitian, dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut (Adelina, 1999).

Dimana : F = Jumlah berat pakan yang diberikan (gram)
Wt = Bobot total ikan pada ahir penelitaian (gram)
Wo = Bobot total ikan pada awal penelitian (gram)
FCR = Rasio konversi pakan (%)







4. Efisiensi penggunaan pakan
Untuk mengetahui nilai efisiensi kebutuhan pakan dapat dilakukan perhitungan dengan rumus sebagai berikut: Stickney, (1994) dalam Mursalin , (2002) .

Dimana : FCE = Efesiensi penggunaan pakan ( %)
FCR = Nilai konversi pakan
5. Tingkat kelangsungan hidup
Untuk mengukur tingkat kelangsungan hidup hewan uji dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut (Effendie, 1979).

Dimana: SR = Kelangsungan hidup (%)
Nt = Jumlah individu pada akhir penelitian ( ekor)
N = ¬Jumlah individu pada awal penelitian (ekor)
6. Kualitas air
Sebagai data penunjang dilakukan pengukuran beberapa parameter kualitas air seperti pada tabel 5, berikut :
Tabel 5 . Parameter kualitas air yang diamati dalam penelitian
No Parameter Alat Waktu Pengukuran
1
2
3 Suhu
Derajat Keasaman
Oksigen terlarut Thermometer
pH meter
DO meter Setiap minggu
Setiap minggu
Setiap minggu




IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Kualitas Air
Hasil pengamatan kualitas air selama penelitian meliputi suhu, derajat keasaman (pH), dan oksigen terlarut(DO).
1. Suhu
Suhu merupakan salah satu faktor abiotik yang mempengaruhi proses biologi pematangan gonad, pemijahan, penetasan telur dan seluruh kegiatan dalam proses kehidupan ikan seperti pernafasan dan pertumbuhan ikan. Suhu air selama penelitian berkisar 26-28¬¬¬¬¬¬¬¬ oC, Kisaran suhu tersebut dapat dikatakan optimal untuk pemeliharaan dan pertumbuhan ikan gurami. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Ghufran (2010) suhu yang optimal untuk peertumbuhan ikan gurami adalah berkisar pada suhu 24 o C -30 o C.
2. Derajat Keasaman (pH)
Derajat keasaam adalah suatu ukuran dari ion hydrogen yang menunjukan kondisi air tersebut apakah bereaksi asam atau basa (Mursalin,2003).derajat keasaman air selama penelitian yaitu 7,0. Hal ini sesuai dengan pernyataan Sunarya (2007) bahwa kolam pemeliharaan gurami idealnya memiliki pH netral yaitu antara 6,5-7,5.




3. Oksigen terlarut (DO)
Kadar oksigen terlarut (DO) pada media pemeliharaan berkisar antara 2,8-3,8 mg/l. Sarwono dan Sitanggang (2007), menyatakan kandungan oksigen terlarut yang terbaik untuk pemeliharaan gurame antara 4-6 mg/l. Walupun kadar DO pada media pemeliharaan di bawah 4 mg/l, ikan gurami tidak mengalami kekurangan oksigen. Hal ini sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI): 01-6485.2-2000, menyatakan bahwa ikan gurame memiliki alat pernapasan tambahan berupa labirint yang mulai terbentuk pada umur 18 hari–24 hari sehingga dapat bertahan hidup pada perairan yang kurang oksigen karena mampu mengambil oksigen dari udara bebas.
B. Pertumbuhan Mutlak Ikan Gurami (Osphronemus gouramy Lac.)
Pertumbuhan mutlak yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah pertambahan berat ikan pada jangka waktu tertentu yang telah ditetapkan, dalam hal ini jangka waktu yang dimaksud adalah pengamatan selama penelitian yaitu 42 hari. Pertumbuhan mutlak diperoleh dari hasil penimbangan bobot akhir penelitian yang dikurangi dengan penimbangan bobot awal penelitian. Nilai pertumbuhan mutlak Ikan gurami (Osphronemus gouramy Lac.) dapat dilihat pada tabel 5 berikut ini :




Tabel 5. Rata – rata Pertumbuhan Mutlak (gr) Ikan Gurami (Osphronemus gouramy Lac.) Selama Penelitian Pada Habitat Buatan

Perlakuan Ulangan (gr) Total (gr) Rata-rata
1 2 3
P1 28,068 30,732 16,656 75,456 25,152
P2 24,786 50,232 63,414 138,432 46,144
P3 55,452 51,864 53,352 160,668 53,556
P0 26,004 67,362 59,49 152,856 50,952
Sumber: Data Pertumbuhan Mutlak (gr) Ikan Gurami (Osphronemus gouramy, Lac.)

Berdasarkan tabel 5 diatas, diperoleh pertumbuhan mutlak ikan gurami (Osphronemus gouramy Lac.) yang tertinggi pada perlakuan C (ampas tahu) sebesar 160,778 gr, selanjutnya adalah pada perlakuan D (pelet), kemudian perlakuan B (tepung kedelai), sedangkan yang terendah yaitu pada perlakuan A (dedak) sebesar 75,456 gr.
Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan rancangan acak lengkap, laju pertumbuhan mutlak ikan gurami (Osphronemus gouramy Lac.) diperoleh nilai Fhit sebesar 2,15. Sedangkan untuk Ftab pada taraf kepercayaan 95% (F 0,05) adalah 4,07. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 6 berikut ini :





Tabel 6. Daftar Analisis Varians Laju Pertumbuhan Mutlak Ikan Gurami (Osphronemus gouramy Lac.)

Sumber Variasi Jumlah Kuadrat (JK) Derajat Bebas (db) Kuadrat Tengah (KT) F hit Ftab
Perlakuan 1498,44053 3 499,481676 2,15
F 0,05
= 4,07

Galat 1854,037824 8 231, 754728
Total 3352,48284 11
Fhit (2,15) < F 0,05; 3,8 (4,07) = H0 diterima
Sesuai hasil uji Analisis Varians Rancangan Acak Lengkap penelitian pada taraf kepercayaan 95%, diperoleh kesimpulan bahwa FhitDengan demikian dapat dikatakan bahwa ke-4 jenis pakan tersebut memberikan efek yang cenderung sama terhadap pertumbuhan ikan Gurami (Osphronemus gouramy Lac.). Hal ini bisa terjadi karena selama proses pengamatan dan penelitian ikan tersebut tidak mendapatkan asupan nutrisi tambahan sebagaimana jika ikan tersebut hidup di alam bebas, sehingga sebagian besar sumber energi yang diperoleh dari pakan digunakan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya dan mengganti sel-sel tubuh yang rusak. Hal ini sesuai dengan pernyataan Akiyama (1991) bahwa daya cerna protein hewani lebih baik dari protein nabati, sebab kandungan protein nabati yang diperoleh lebih banyak digunakan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya daripada untuk pertumbuhan.
Jenis pakan (dedak, tepung kedelai, ampas tahu dan pelet) yang diberikan di kolam atau di tambak pemeliharaan ikan Gurami pada umumnya ada kemungkinan pakan-pakan tersebut memberikan pengaruh yang berbeda, hal ini disebabkan ada berbagai asupan sumber nutrisi yang dapat diperoleh secara langsung dari alam, lain halnya jika ia berada didalam habitat buatan (akuarium) dimana faktor pengaruh dari luar telah dibatasi. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Petrus (1999), menyatakan bahwa dalam menghadapi perubahan kondisi lingkungan dimana organisme dihadapkan pada suatu pilihan yang terbatas, maka diperlukan kemampuan adaptasi fisiologis secara optimal untuk mempertahankan atau mencapai kemampuan hidup.
C. Laju Pertumbuhan Spesifik Ikan Gurami (Osphronemus gouramy Lac.)
Laju pertumbuhan spesifik (LPS) adalah persentase pertumbuhan bobot yang dicapai pada suatu waktu tertentu. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut ini :
Gambar 2. Grafik laju pertumbuhan spesifik ikan gurami setiap perlakuan selama penelitian

Berdasarkan hasil analisis varians Rancangan Acak Lengkap antara perlakuan A, B, C, dan D terhadap laju pertumbuhan spesifik ikan uji pada Minggu pertama hingga Minggu terakhir menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh pemberian pakan yang berbeda terhadap pertumbuhan ikan gurami. Tetapi hal ini dapat dimaklumi karena berdasarkan pengamatan sebagaimana yang dimaksudkan oleh Susanto (2002), bahwa ikan gurami adalah salah satu jenis ikan yang pada saat muda tergolong karnivora, dan setelah dewasa baru tergolong herbivora.
Berdasarkan hasil penelitian sebagaimana ditunjukkan oleh gambar 2, menunjukkan bahwa laju pertumbuhan spesifik cenderung mengalami peningkatan, meskipun pada beberapa pakan terjadi fluktuasi pertumbuhan. Namun hal ini dapat dimaklumi, sebagaimana dikemukakan oleh Mujiman (1997) selain faktor makanan faktor lingkungan juga sangat mempengaruhi pertumbuhan suatu organisme dalam suatu wadah budidaya, diantaranya adalah ketersediaan oksigen yang cukup dan persentase pemberian pakan.
Perlakuan A (Dedak) pada Minggu pertama hingga Minggu ke enam mengalami peningkatan, tetapi mengalami penurunan pada Minggu ke tujuh. Hal ini bisa terjadi karena tingginya kandungan serat kasar pada dedak yaitu sebesar 73,80%. Dengan tingginya kandungan serat kasar pada pakan ini, maka pakan akan cukup sulit dicerna oleh ikan sehingga tidak menunjukkan hasil yang signifikan terhadap pertumbuhan ikan. Meskipun terus mengalami peningkatan tetapi kandungan protein yang ada pada dedak juga cukup rendah (11,09%), sebagaimana dikemukakan oleh Khairun dan Sudenda (2002) kebutuhan protein untuk pertumbuhan ikan minimal berkisar anatara 25-30%. Sehingga ketika bobot dan ukuran ikan telah bertambah dimana turut menuntut adanya pertambahan jumlah kandungan protein dalam pakan ikan untuk terus menunjang pertumbuhan, kandungan protein yang terdapat pada dedak yang digunakan dalam penelitian ini tidak lagi mencukupi untuk memenuhi kebutuhan tersebut, sebaliknya protein yang ada lebih banyak digunakan untuk perawatan dan mempertahankan kelangsungan hidupnya.
Pada perlakuan B (tepung kedelai), C (ampas tahu) dan D (pelet), cenderung menunjukkan hasil peningkatan dan penurunan yang relatif sama. Sebagaimana dapat dilihat pada gambar 2, bahwa pertumbuhan ikan yang diberi pakan tepung kedelai mengalami peningkatan pada Minggu pertama hingga Minggu ketiga dan selanjutnya menurun pada Minggu ke empat dan berangsur-angsur meningkat lagi pada Minggu ke lima hingga ke tujuh. Meskipun demikian peningkatan yang ditunjukkan tidak signifikan. Tingginya kandungan protein yang terdapat pada pakan tepung kedelai yaitu sebesar 35,38% turut menghambat pertumbuhan ikan gurami. Sebab meskipun pakan ini memiliki kandungan serat kasar yang sangat rendah (3,28%) sehingga cukup mudah tercerna oleh ikan tetapi kelebihan kandungan protein akan memberikan dampak dimana ikan akan mengalami pertumbuhan yang melambat. Tingginya kandungan protein yang melebihi ambang batas dan toleransi ikan akan turut memperlambat pertumbuhan ikan serta membuat mereka gampang terkena stres (Effendie, 1997).
Perlakuan dengan pemberian pakan ampas tahu sebagaimana di tampilkan pada gambar 2, juga cenderung mengalami fluktuasi laju pertumbuhan spesifik. Pada mingu pertama hingga Minggu ketiga laju pertumbuhan spesifiknya cenderung meningkat, tetapi setelah Minggu keempat hingga Minggu keenam laju pertumbuhan spesifiknya cenderung menurun, meskipun pada Minggu ke tujuh kembali terjadi peningkatan. Hal ini bisa terjadi, karena berdasarkan hasil analisis sampel yang dilakukan bahwa kandungan protein dari ampas tahu sangat rendah yaitu 5,29%. Tentu saja hal ini sangat mempengaruhi pertumbuhan ikan. Sebagaimana dapat dijelaskan bahwa pada Minggu pertama penelitian ukuran ikan masih relatif kecil sehingga kandungan protein pada pakan masih memenuhi kebutuhan ikan untuk melakukan perkembangan. Tetapi seiring bertambahnya ukuran ikan maka kandungan protein yang ada pada ampas tahu tidak lagi mencukupi untuk memenuhi kebutuhan ikan, sehingga protein yang ada pada pakan tersebut lebih banyak digunakan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Hal ini turut menjadi penyebab menurunnya laju pertumbuhan spesifik pada ikan gurami.
Pada perlakuan D ( pelet) sebagaimana ditunjukkan oleh gambar 2, juga cenderung mengalami peningkatan dan penurunan laju pertumbuhan spesifik. Pada Minggu pertama hingga Minggu ketiga laju pertumbuhan spesifik cenderung meningkat, tetapi menurun pada minggu keempat dan selanjutnya kembali meningkat pada minggu kelima hingga ke tujuh. Hal ini bisa diakibatkan oleh ikan yang masih berusaha beradaptasi terhadap pakan buatan, meskipun pakan ini memiliki kandungan protein yang cukup memadai yaitu 30% dan serat kasar sebesar 4% sehingga akan cukup mudah dicerna oleh ikan. Tetapi selain faktor makanan dan kebiasaan makan ikan, faktor lingkungan juga sangat mempengaruhi pertumbuhan suatu organisme dalam suatu wadah budi daya, diantaranya adalah ketersediaan oksigen yang cukup untuk ikan, frekuensi pemberian pakan serta persentase pemberian pakan (Mujiman, 1997).
Berdasarkan grafik laju pertumbuhan spesifik ikan gurami menunjukan bahwa pakan dedak lebih baik peningkatan pertumbuhan di awal-awal penelitian sungguh pun dilihat secara keseluruhan pengamatan, jenis pakan yang diberi tidak memberikan efek yang berbeda secara signifikan namun pakan dedak lebih baik atau cocok diberikan pada permulaan pertumbuhan hal ini dapat dilihat pada grafik laju pertumbuhan spesifik ikan.
D. Nilai Konversi Pakan
Nilai konversi pakan adalah jumlah berat makanan yang diperlukan oleh ikan untuk menambah bobot tubuh, dari segi konversi pakan nilai terendah merupakan konversi pakan terbaik. Nilai konversi pakan ikan gurami ditampilkan pada gambar 3.














Gambar 3. Histogram nilai konversi pakan ikan Gurami (Osphronemus gouramy Lac.) selama penelitian

Berdasarkan hasil penelitian sebagaimana yang ditunjukkan oleh gambar 3, tampak bahwa dedak memiliki nilai konversi pakan tertinggi (44,924), selanjutnya tepung kedelai (26,216), ampas tahu (25,293) dan yang paling rendah adalah pellet (20,803). Hal ini berarti untuk menghasilkan 1 gram daging ikan gurami dibutuhkan 44,924 gram dedak, 26, 216 gram tepung kedelai, 25,293 gram ampas tahu dan 20,803 pellet komersial. Akan tetapi pemberian pakan dengan tepung kedelai, ampas tahu dan pellet belum dapat memperlihatkan hasil yang optimal meskipun nilai konversi pakan yang dihasilkan jauh lebih baik dari pada perlakuan dengan pemberian pakan dedak.
Tingginya nilai konversi pakan pada perlakuan dengan pemberian pakan dedak menunujukkan bahwa pakan yang diberikan lebih banyak yang terbuang, hal ini bisa terjadi karena tingginya kandungan serat kasar pada dedak yaitu 73,80% sehingga pakan sulit dicerna oleh ikan. Nilai konversi pakan yang cenderung rendah pada perlakuan dengan pemberian pakan tepung kedelai, ampas tahu, dan pellet menunjukkan bahwa pakan tersebut layak digunakan dalam pembudidayaan ikan gurami. Hal ini sejalan dengan pendapat Sumeru (1995) yang menyatakan bahwa semakin kecil nilai konversi pakan yang diberikan berarti pakan yang diberikan hampir habis diamakan dan digunakan untuk pertumbuhan. Sebaliknya apabila konversi pakan lebih besar berarti pakan tersebut kurang optimal untuk pertumbuhan. Sebagaimana dinyatakan pula oleh Tamburaka (2001) bahwa semakin rendah nilai konversi pakan semakin baik pakan tersebut karena semakin sedikit jumlah pakan yang dibutuhkan untuk menghasilkan berat tertentu.
E. Efisiensi Penggunaan Pakan
Efisiensi penggunaan pakan digunakan untuk melihat seberapa besar pakan tersebut dimanfaatkan oleh ikan. Begitupula dalam penelitian ini, efisiensi penggunaan pakan digunakan untuk melihat seberapa efisien pakan tersebut digunakan oleh ikan gurami,karena dengan melihat nilai efisiensi penggunaan pakan kita dapat melihat pakan yang mana yang cenderung disukai oleh ikan. Sebab semakin tinggi nilai efisiensi suatu pakan menunjukkan bahwa semakin sedikit pakan tersebut yang terbuang. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 4.














Gambar 4. Histogram nilai efisiensi penggunaan pakan selama penelitian pada ikan Gurami (Osphronemus gouramy Lac.)

Berdasarkan hasil penelitian sebagaimana yang ditunjukkan oleh gambar 4, diketahui bahwa nilai efisiensi penggunaan pakan tertinggi terdapat pada pakan pellet (32,39%), selanjutnya adalah tepung kedelai (12,65%), kemudian ampas tahu (12,45%) dan yang paling rendah adalah dedak (6,97%). Dapat dilihat bahwa pellet merupakan pakan yang paling efisien digunakan hal ini disebabkan kualitas pakan lebih baik, perlu diketahui bahwa pellet yang digunakan adalah pellet komersial dimana kandungan komposisi bahan-bahanya sudah disesuaikan dengan kebutuhan ikan dan kualitas pakannya lebih baik. Hal ini didukung oleh pendapat Juwana (1994) yang menyatakan bahwa keberhasilan suatu pakan tergantung pada nilai nutrisi, ukuran partikel dan daya tarik rasa. Lebih lanjut Khairun dan Sudenda (2002) menyatakan bahwa kualitas pakan komersial mengandung keseimbangan dan kelengkapan nutrien yang meliputi protein, karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral.
Pakan tepung kedelai dan ampas tahu lebih efisien dimanfaatkan oleh ikan dari pada dedak, karena kandungan serat kasar pakan lebih rendah sehingga lebih mudah dicerna dan diserap oleh ikan. Untuk memperoleh pertumbuhan yang optimal ikan harus diberikan pakan dalam jumlah yang cukup yang sesuai dengan kebutuhan ikan. Selain itu pakan yang memiliki kandungan nutrisi yang lebih lengkap maka semakin baik pula kualitas pakan. Kordi (2007) menyatakan bahwa pemanfaatan pakan yang bersumber dari protein hewani jauh lebih baik daripada pakan yang bersumber dari protein nabati karena lebih mudah dicerna. Sehingga berdasarkan hal tersebut, dapat dilihat rendahnya efisiensi penggunaan pakan dalam penelitian ini memicu kurang optimalnya pertumbuhan ikan sebagaimana diketahui bahwa ikan Gurami pada fase awal pertumbuhannya lebih bersifat karnivora, dan setelah dewasa baru bersifat herbivora.
Berdasarkan nilai efesiensi penggunaan pakan selama penelitian pada ikan gurami menunjukan bahwa pellet menjadi pakan yang paling tertinggi tingat keefesienannya dikarenakan, pellet memiliki bentuk struktur yang tidak mudah larut dalam air serta terapung sedangkan pakan yang lain memiliki struktur yang mudah hancur bahkan menggendap sesaat setelah ditaburkan dalam wadah pengamatan.


F. Tingkat Kelangsungan Hidup
Rata-rata tingkat kelangsungan hidup ikan gurami (Osphronemus gouramy Lac.) dengan memberi jenis pakan yang berbeda dalam setiap perlakuan yaitu pelakuan A dedak, B tepung kedelai, C ampas tahu dan D pellet (kontrol). Dengan pemberian pakan 2 kali sehari terlihat bahwa kelangsungan hidup ikan gurami (Osphronemus gouramy, Lac.) diperoleh 100%. Persentase selama penelitian disajikan dalam tabel 7 berikut ini:
Tabel 7:Rata-rata kelangsungan hidup ikan gurami (Osphronemus gouramy, Lac.) Selama penelitian.
Perlakuan Ulangan (%) Rata-rata (%)
1 2 3
Dedak 100 100 100 100
Tepung kedelai 100 100 100 100
Ampas tahu 100 100 100 100
Pelet 100 100 100 100
Rata-rata 100 100 100 100

Tingkat kelangsungan hidup pada semua perlakuan, menunjukan bahwa pengaruh pemberian pakan yang berbeda pada ikan gurami tidak mempengaruhi tingkat kelangsungan hidupnya, dimana pada semua perlakuan memberikan rata-rata persentase kelangsungan hidup yang sama yaitu 100%.Tingginya tinggat kelangsungan hidup benih ikan gurami diduga karena terpenuhinya kebutuhan pakan untuk kelangsungan hidup dan kondisi lingkungan pemeliharaan yang sesuai sehingga kondisi stress selama pemeliharaan dapat terhindarkan. Selain itu juga didukung oleh faktor kualitas air, dimana tiap perlakuan selama penelitian masih berada pada kisaran yang normal untuk kelangsungan hidup dan proses pertumbuhan ikan gurami. Hal ini sesuai yang dikemukakan oleh Effendie (1979) bahwa kelangsungan hidup sangat ditentukan oleh ketersediaan pakan dan kualitas air.
























V. PENUTUP

A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa sebagai berikut:
1. Media pemeliharan benih ikan gurami pada wadah terkontrol dalam penelitian ini dengan pemberian jenis pakan berbeda (dedak, ampas tahu, tepung kedelai dan pelet) tidak memberikan perbedaan yang nyata terhadap pertumbuhan ikan gurami selama penelitian.
2. Pertumbuhan mutlak Ikan Gurami (Osphronemus gouramy, Lac.) selama pengamatan dalam penelitian, pakan tidak memberikan perbedaan secara nyata hal ini dilihat dari pertumbuhan ikan yang memberi efek cenderung sama dari jenis pakan yang diberikan pada setiap ulangan.
3. Pemberian pakan tidak memberikan efek yang berbeda secara signifikan namun dilihat dari laju pertumbuhan spesifik ikan bahwa dedak cocok diberikan pada awal-awal pertumbuhan ikan gurami kemudian dari nilai keefesiensi pakan menunjukan bahwa pellet yang lebih baik dikarenakan pellet untuk menghasilkan 1 gram daging ikan dibutuhkan 20,803 gram pakan pellet, ampas tahu 25,293 gram, tepung kedelai 26,216 gram, dedak 44,924 gram.





B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian ini maka penulis menyarankan sebagai berikut:
1. Perlu adanya penelitian lanjut mengenai perlakuan pemberian jenis pakan berbeda (dedak, ampas tahu, tepung kedelai dan pelet) terhadap pertumbuhan ikan gurami (Osphronemus gouramy, Lac.) pada kondisi lingkungan yang tak terkontrol agar dapat dibandingkan.
2. Perlu dilakukan penelitian jenis pakan alternatif yang lebih baik untuk dapat memacu pertumbuhan ikan gurami (Osphronemus gouramy Lac.).
















DAFTAR PUSTAKA

Ade, 2009. Pakan Ikan Gurami (Osphronemus gourami sp). Sumur Bandung
Adelina,1999. Metode Peranacangan Percobaan. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Arie, 2001. Studi Pengurangan Kandungan Tanin pada Limbah Sorgum. Balai Penelitian Tanaman Pangan Sukamandi.
Akiyama,D.M.,W.G Dominy, 1991. Penaeid Shrimp Nutrition for the Comercial Feed Industry. In Proceeding of the Aquaqulture Feed Processing and Nutrition Workshop. Thailand and Indonesia.
(Bachtiar, 2006)
Cholik et al., 2005. Pengelolaan Kualitas Air. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan. Direktorat Jenderal Perikanan – IDRC Jakarta.
Djokosetiyanto, 2005. Budidaya Ikan di Pekarangan. Penebar Swadaya. Jakarta.
Effendi, M. I., 1979. Metode Biologi Perikanan. Yayasan Dewi Sri. Bogor.

Effendie, D. S. 1997. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusantara. Bogor.
Effendie, M. I. 1979.Metode Biologi Perikanan. Yayasan Dwi Sri. Bogor.
Effendie, M. I. 1997. Pengantar Aquakultur.Penebar Swadaya. Jakarta.
Effendie, M. I. 2002. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusantara. Yogyakarta.
Gaspersz, V. 1991. Metode Peranacangan Percobaan. Armico. Bandung.
Ghufran,H. 2010. Membudidayakan Gurami. Lily Publisher. Yogyakarta.
Hardjojo dan Djokosetiyanto2005. Budidaya Ikan di Pekarangan. Penebar Swadaya. Jakarta.
Hattu, 2009. Makanan Ikan. Penebar Swadaya. Jakarta.
Huisman, 1976. Prinsip-Prinsip Budi Daya Ikan.PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Jangkaru, Z. 1999. Memacu Pertumbuhan Gurami. Penebar swadaya. Jakarta.
Juwana, S. 1994. Peranan Pellet Kering dalam Penelitian Nutrisi Ikan dan Penentuan Kualitas Tehnik Pembuatan Pellet.Agromedia Pustaka. Jakarta.
Khairuman, A dan D. Sudenda. 2002. Pembenihan dan Pembesaran Ikan Gurami Secara Intensif. Agromedia Pustaka. Jakarta.
Kordi, K.M.G.H., 2007. Pakan Gurami: nutrisi, Formulasi, Pembuatan, Pemberian. Aneka Ilmu. Semarang.
Mahmud, A. 2001. Habitat Baru Ikan Nila gift (oreochromis sp.). Kanisius. Yogyakarta.
Mujiman, A. 1997. Makanan Ikan. Penebar Swadaya. Jakata.
Mokoginta,I., 1995. Kebutuhan Nutrisi Ikan Gurami (Osphronemus gouramy) untuk Pertumbuhan dan Reproduksi.Fakultas Perikanan, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Nontji, 2002. Makanan Ikan. Penebar Swadaya. Jakarta.
Pescod, 1973. Budidaya Gurami, Agromedia Pustaka. Jakarta.
Puspowardoyo, H dan A Siregar, 1992. Budidaya Gurami Intensif. Kanisius. Yogyakarta.
Reinthal, 2005. Ichtyology. phttp://eebweb. arizona. edu/couses/ eco1482-582/ lecture-1-2011-6.pdf
Ricky, 2008. Usaha Pemeliharaan Gurami (Osphronemus gouramy sp). Penebar Swadaya, Jakarta: 2008.
Robert, 1992. Systematic Revision of The Souteasth Asian Anabantoid Fish Genus Osphronemus, with Description of Two New Species. Ichthyol Explor, Freshwater, 2(4) : 351 – 360.
Ruspitawati,O. 1996. Pengaruh Perbedaan Kandungan Vitamin Mix dalam Makanan Berkadar Mineral mix 2, 98% Terhadap Pertumbuhan Gurami (Osphoonemus Gouramy).IPB. Bogor.
Saanin,1984. Makanan Ikan. Penebar Swadaya. Jakarta.
Sari Gendro Sasi, 2009. Budidaya Pertanian Dan Peternakan Ikan Gurami (Osphronemus gouramy sp). Sastra Hudaya Jakarta: 2008.
Sarwono, dan Sitanggang, 1994. Budidaya Gurami. Penebar Swadaya. Jakarta.
Sitanggang, M. 1994. Budidaya Gurami. Penebar Swadaya. Jakarta.
Stickney, (1994) dalam Mursalin , (2002) . Budidaya Ikan Gurami (Osphronemus gouramy, Lac). Teknologi Tepat Guna Mentri Negara Riset dan Teknologi. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Jakarta
Sumeru, 1995. Budidaya Ikan Gurami. Kanisius.Yogyakarta.
Sunarya, U.P., 2007. Guramy soang. Penebar Swadaya. Jakarta.
Susanto, H,.1999. Budidaya Gurame. Kanisius. Yogyakarta.
2002. Budidaya Ikan di Pekarangan. Penebar Swadaya. Jakarta
Suyanto, 1990. Budidaya Ikan di Pekarangan. Penebar Swadaya. Jakarta.
Tamburaka, T. W. 2001. Pengaruh Dosis Vitamin C pada Pakan Buatan Terhadap Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Benih Ikan Gurami (Osphronemus gouramy lac.). Skripsi Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Haluoleo. Kendari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar